Wacana Holding BUMN Migas Mulai Menuai Kontroversi

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Rabu, 22/06/2016 08:07 WIB
Wacana <i>Holding</i> BUMN Migas Mulai Menuai Kontroversi Bergabungnya PGN ke tubuh Pertamina dinilai bisa menurunkan peringkat kredit yang mempersulit dalam mencari pinjaman. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belum juga merampungkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang akan mengatur pembentukan perusahaan induk (holding) di sektor energi. Berlarutnya hal tersebut membuat wacana penggabungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ke tubuh PT Pertamina (Persero) mulai memicu kontroversi.

Andrianus Bias, Analis Samuel Sekuritas menyebut akuisisi PGN oleh Pertamina akan berdampak negatif bagi PGN maupun negara. Pasalnya aksi tersebut bakal bakal berimbas negatif bagi neraca keuangan perusahaan berkode saham PGAS.

Andrianus mengatakan saat ini peringkat utang PGN dari Moody's adalah AAA (idn) dengan outlook stabil.


"Sementara, peringkat utang Pertamina di bawah itu, sehingga PGN akan terkena dampak negatifnya" kata Andrianus, dikutip dari kantor berita Antara, Rabu (22/6).

Kondisi tersebut, membuat PGN yang sebelumnya mudah mendapatkan pinjaman, akan menjadi lebih sulit setelah berada di bawah Pertamina.

"Penggabungan PGN ke dalam Pertamina akan menurunkan kepercayaan publik terhadap PGN yang dapat mempengaruhi keyakinan 'potential lender' untuk memberikan pinjaman dengan bunga yang kompetitif," ujarnya.

Sementara kerugian yang dialami negara dengan penggabungan tersebut, nantinya dividen yang dibayarkan PGN tidak lagi langsung ke kas negara, akan tetapi dikonsolidasikan sebagai laba Pertamina. Sehingga porsi yang akan masuk ke negara bisa lebih kecil dibandingkan PGN masih berstatus BUMN.

Namun, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto masih meyakini bahwa pembentukan holding migas perlu dilakukan untuk menjawab tantangan industri migas na­sional. Dwi mencatat saat ini produksi Pertamina baru mencapai 26 persen dari total produksi na­sional dan masih menjadi nett importer untuk 50 persen ke­butuhan harian bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Dwi mengungkapkan hasil pengkajian mendalam yang dilakukan timnya, menyebutkan justru ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh Pertamina dan PGN dengan bergabung menjadi satu.

Pertamina sebagai perusahaan induk diharapkan mampu meningkatkan pro­duksi domestik melalui sum­ber pendapatan baru transmisi dan distribusi yang telah dibangun oleh PGN. Pertamina dan PGN juga bisa bekerjasama untuk mempercepat pengembangan Coal Bed Methane (CBM), pe­ningkatan sumber LNG, peningkatan kapasitas in­vestasi perusahaan, pe­ningkatan pendapatan sekitar US$150 juta-US$250 juta per tahun, sinergi kontribusi pajak, sinergi belanja modal, serta peningkatan total aset perusahaan.

Dwi yang juga mantan bos PT Semen Indonesia Tbk, menuturkan pengalamannya memimpin pelaksanaan holding tiga perusahaan semen di Indonesia yang ber­hasil meningkatkan laba bersih perusahaan lebih dari sepuluh kali lipat setelah melakukan strategi holding.

“Ketika perusahaan ini berjalan sendiri-sendiri, total laba bersih dari perusahaan adalah Rp500 miliar. Tapi setelah kira-kira delapan ta­hun perusahaan ini mela­ku­kan holding, menghasilkan laba bersih sekitar Rp5,5 triliun. Jadi, lebih dari 10 kali pe­­ningkatan dalam kurun wak­­tu delapan tahun,” jelasnya. (gen)