OJK: Juni, Puncak Kredit Macet Tertinggi
Dinda Audriene Mutmainah | CNN Indonesia
Kamis, 28 Jul 2016 15:40 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menyebut, rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) industri perbankan menyentuh puncak tertinggi di tahun ini. Yakni, sebesar 3 persen (kotor) atau 1,3-1,4 persen (bersih) per Juni 2016.
"Saya kira, puncaknya sekarang ini, per Juni 2016. Karena, kemarin saat saya cek data sementara, NPL sudah membaik lagi," ujarnya, Kamis (28/7).
Kendati demikian, ia menilai, kondisi kenaikan kredit macet tersebut masih terkendali. Bahkan, masih jauh dari batas yang diperkenankan regulator yang sebesar 5 persen. Lagipula, perlambatan pertumbuhan kredit masih terjadi. Itu berarti, faktor pembaginya menjadi lebih kecil.
"Saya pikir, NPL masih terkendali. Tidak mengkhawatirkan. Sekarang, dengan harapan baru dan kepercayaan baru, ekspektasi pertumbuhan membaik di semester kedua. Mudah-mudah bisa lebih baik," terang Muliaman.
Adapun, sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan kredit macet berasal dari sektor pertambangan. Harap maklum, sektor ini terpukul karena harganya jatuh. Namun begitu, bank telah menyiapkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang kuat untuk menanggulangi kredit macet, terutama dari sektor tambang.
"Kalau bank menaikkan pencadangan bank, laba pasti tertekan. Tetapi, yang terpenting fundamentalnya baik. Setelah itu kesempatan untuk tumbuhnya akan luar biasa," imbuh dia.
Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk sebelumnya memproyeksi, peningkatan NPL masih akan berlangsung mencapai puncaknya pada kuartal ketiga tahun ini. NPL BCA sendiri naik dari 0,7 persen pada semester I 2015 menjadi 1,4 persen pada periode yang sama tahun ini.
Namun, sambung dia, kenaikan NPL tersebut terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi yang terjadi. Tak terkecuali perlambatan pertumbuhan kredit industri perbankan. Pun demikian, ia menuturkan, kenaikan NPL masih dalam tingkat risiko yang dapat ditoleransi. (bir/gen)
"Saya kira, puncaknya sekarang ini, per Juni 2016. Karena, kemarin saat saya cek data sementara, NPL sudah membaik lagi," ujarnya, Kamis (28/7).
Lihat juga:Bank Konsentrasi Jaga Rasio Likuiditas |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan kredit macet berasal dari sektor pertambangan. Harap maklum, sektor ini terpukul karena harganya jatuh. Namun begitu, bank telah menyiapkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang kuat untuk menanggulangi kredit macet, terutama dari sektor tambang.
Namun, sambung dia, kenaikan NPL tersebut terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi yang terjadi. Tak terkecuali perlambatan pertumbuhan kredit industri perbankan. Pun demikian, ia menuturkan, kenaikan NPL masih dalam tingkat risiko yang dapat ditoleransi. (bir/gen)