Dia memperkirakan, realisasi penerimaan perpajak akan meleset sekitar 14 persen lebih rendah dari yang dipatok di Anggaran Pendapatan dan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016.
"Tahun ini di 2016 berdasarkan kemungkinan penerimaan negara dari sisi pajak, diperkirakan akan kurang sekitar Rp219 triliun," jelasnya dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Rabu (4/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2016 tekanan pada APBN sangat tinggi, karena basis perhitungannya sangat tinggi. Oleh karena itu, kami hari ini melaporkan ke Presiden, Wapres dalam Sidkab bahwa kami perlu melakukan penyesuaian sehingga APBN jadi kredibel," jelasnya.
"Namun ini tidak jadi bahan bagi kami untuk mengatakan seluruh upaya meningkatkan penerimana pajak harus dikendorkan. Justru sebaliknya," tegas Menkeu.
Dia mengatakan presiden meminta para fiskus untuk menggenot penerimaan pajak karena sangat diperlukan untuk mendanai aktivitas dan kegiatan prioritas, seperti pembangunan infrastruktur, pengurangan kemiskinan, meningkatkan kesehatan, dan mengurangi kesenjangan pendapatan.
Oleh karena itu, lanjutnya, berdasarkan kemungkinan melsetnya penerimaan perpajakan sekitar Rp219 triliun, maka alokasi anggaran belanja kementerian dan lembaga (K/L) perlu disesuaikan. Hal ini untuk menjaga agar pelebaran defisit fiskal tidak menimbulkan krisis kepercayaan terhadap APBN. (ags)