Ketua Umum AISI, Gunadi Sindhuwinata menjelaskan, salah satu contoh persaingan yang terlihat adalah perang promosi. Ia menyebut, Yamaha selalu menampilkan promosi yang terkesan menjatuhkan motor pabrikan lain demi mendongkrak pangsa pasar mereka. Sampai akhirnya, AISI menegur Yamaha akibat hal ini.
"Iklan ini terjadi demi menarik konsumen ke mereka. Kami juga sudah memberitahu, jangan lakukan iklan yang kurang pas. Kami lihat memang Yamaha ini sangat masif dalam menggunakan iklan," ujar Gunadi, Selasa (6/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data AISI sepanjang tahun 2015, Honda masih memimpin di pasar Matic dengan pangsa pasar 76,9 persen. Sementara itu, Yamaha menempati posisi kedua dengan raihan 16,73 persen. Sehingga, gabungan keduanya mengambil pangsa pasar 93,63 persen penjualan matic nasional.
Selain melalui promosi, Gunadi melanjutkan, ATPM juga berupaya untuk menjaring pelanggan baru motor matic lewat diversifikasi kapasitas mesin. Ia mencontohkan, jika ada ATPM yang memproduksi motor matic berkapasitas 110 cc, maka ATPM saingannya akan memproduksi motor yang kapasitas mesinnya mendekati angka tersebut.
Upaya ini perlu dilakukan mengingat saat ini banyak pelanggan sepeda motor yang peduli akan teknis kendaraan. Namun menurutnya, kemampuan diversifikasi itu hanya bisa dilakukan jika skala ekonomis (economies of scale) pabrik terbilang tinggi, mengingat investasi yang digelontorkan pun tak sedikit.
"Di sini pun juga ketat persaingannya. Pasalnya, tidak semua pabrikan punya dana demi investasi untuk produksi macam-macam kapasitas mesin," ujarnya.
Dengan melihat contoh tersebut, ia yakin Honda dan Yamaha telah menjalankan praktik persaingan usaha yang sehat. Apalagi menurut Gunadi, prinsipal mereka di Jepang juga telah menandatangani pakta persaingan usaha yang sehat.
"Kalau prinsipal mereka sudah menandatangani pakta tersebut, maka harusnya itu juga diikuti di tingkat lokal Indonesia. Kami menilai persaingan usaha yang sehat ini bagus, karena juga bisa memperkuat nama merek," kata Gunadi.
Indikasi tersebut pertama kali ditemukan oleh KPPU berdasarkan temuan adanya jalinan komunikasi melalui surat elektronik antar petinggi direksi kedua perusahaan yang berisi koordinasi untuk menyesuaikan harga jual sepeda motor jenis tersebut di Indonesia. (gir)