Sejalan dengan itu, bunga fasilitas deposito (deposit facility/DF) turun menjadi 4,25 persen dan bunga fasilitas kredit (Lending Facility/LF) dikoreksi menjadi 5,75 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Menteri Keuangan itu meyakini, penurunan bunga acuan akan memperkuat kebijakan pemerintah dalam memacu pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan melalui percepatan implementasi reformasi struktural.
Namun, ia menyoroti perlambatan ekonomi China serta lemahnya konsumsi dan investasi di Eropa yang akan dijadikan pertimbangan bank sentral dalam menjaga kestabilan moneter. Selain itu, harga beberapa sektor komoditas yang masih rendah juga menjadi perhatian khusus karena masih akan menahan laju ekspor Indonesia.
"Di pasar komoditas harga minyak dunia memang masih turun, namun sementara itu beberapa komoditas sedikit membaik termasuk CPO," katanya.
Tak hanya itu, lanjut Agus, BI juga melihat stimulus fiskal yang masih terbatas sejalan dengan penyesuaian belanja pemerintah. Dia menuturkan, pertumbuhan ekonomi tahun ini kemungkinan masih akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan invetasi swasta.
"Dengan perkembangan tersebu pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diproyeksi berada di kisaran 4,9-5,3 persen," kata Agus.
Ke depan, kata Agus, otoritas moneter masih membuka ruang pelonggaran moneter sepanjang inflasi dan transaksi berjalan terkendali. Pada tahun ini, BI menargetkan inflasi pada rentang 4±1 persen.
"Kita lihat masih ada ruang pelonggaran, kita sediri masih terus mengamati. Sepanjang kondisi ekonomi terjaga moneter bisa dalam kondisi easing," ujarnya. (ags/gen)