Target Trade Expo Meleset, Mendag Tetap Yakin Ekspor Pulih

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Senin, 17/10/2016 06:04 WIB
Target Trade Expo Meleset, Mendag Tetap Yakin Ekspor Pulih Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito (kanan) berbincang dengan Kepala BKPM Thomas Lembong. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan melaporkan, Trade Expo Indonesia (TEI) 2016, membukukan nilai transaksi sebesar US$974,76 juta atau setara dengan Rp12,7 triliun selama sepekan lalu. Capaian tersebut nyaris mencapai target

Dari total nilai tersebut, transaksi barang mencapai US$826,52 juta, sektor jasa meraup US$48,23 juta, dan investasi Indonesia ke negara lain sebesar US$100 juta. Dari total pembeli potensial sebanyak 15.567 orang dari 125 negara, sebanyak 110 pembeli potensial melakukan transaksi lansung dengan pelaku usaha dalam negeri.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan ambisius memasang target transaksi perdagangan mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp13 triliun pada perhelatan Indonesia Trade Expo (ITE) 2016 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran sejak hari ini, Rabu, 12 Oktober 2016 sampai Minggu, 16 Oktober 2016.


Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai capaian TEI 2016 bisa menjadi titik balik peningkatan kinerja ekspor nasional, yang tercatat melemah 10,61 persen sepanjang tahun ini.

"TEI diminta oleh Presiden Joko Widodo sebagai titik balik ekspor nasional, hal tersebut telah berhasil dicapai karena transaksi yang ada lebih tinggi 7,2 persen dibandingkan dengan 2015," kata Enggartiasto Lukita saat menutup TEI 2016, Minggu (16/10) seperti dikutip dari Antara.

Jokowi berharap, kata Mendag, kinerja ekspor nasional kembali stabil dan berbalik naik di tengah kondisi perekonomian dunia yang belum membaik.

"Presiden memberikan perintah kepada kami untuk benar-benar menjaga neraca perdagangan, dan apakah TEI bisa dijadikan sebagai titik balik dari ekspor nasional. Artinya, tidak terjadi penurunan, dan bahkan jika mampu terjadi kenaikan," kata Enggartiasto.

Dia mengatakan, untuk target ekspor 2017 diharapkan mampu lebih baik jika dibandingkan dengan saat ini. Namun, dirinya masih enggan untuk menyatakan berapa besar target peningkatan ekspor yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan.

"Target ekspor 2017 harus lebih tinggi, setiap tahun harus lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Nanti akan kita lihat dari pertumbuhan ekonomi dunia, seberapa jauh mereka pulih atau paling tidak ekspor kita tidak boleh lebih rendah dari tahun sebelumnya," kata Enggar.

Enggar meyakini kondisi stabil maupun sedikit kenaikan untuk kinerja ekspor Indonesia tersebut bisa tercapai dengan adanya pasar-pasar baru tujuan ekspor yang sudah mulai dibuka di luar negara-negara tradisional selama ini. Selain itu juga mendorong usaha kecil menengah (UKM) tujuan ekspor untuk memberikan nilai tambah.

Menurutnya, produk-produk UKM merupakan produk yang memiliki nilai tambah dan mampu membuat kinerja ekspor nasional tidak hanya fokus pada produk primer seperti crude palm oil (CPO). Kementerian Perdagangan tengah mengembangkan upaya pemberian nilai tambah untuk produk UKM melalui Indonesia Design Development Center (IDDC) dengan program Designers Dispatch Service (DDS).

"Kita memiliki IDDC, yang merupakan kolaborasi antara desainer dengan pelaku usaha UKM. Produk yang dihadirkan dengan ciri khas kita, akan memiliki nilai tambah yang cukup besar. Pada 2017, IDDC akan mendapatkan perhatian khusus, Presiden memerintahkan kepada saya untuk memberikan anggaran yang cukup," kata Enggar.

Badan Pusat Statistik (BPS) pernah melaporkan, nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2016 mencapai US$12,63 miliar AS atau menurun 0,74 persen jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk ekspor non-migas Agustus 2016 mencapai US$11,5 miliar atau naik 2,76 persen.

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2016 mencapai US$91,73 miliar atau menurun 10,61 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Demikian juga dengan ekspor non-migas yang mencapai US$83,11 miliar, menurun 7,32 persen. (ags/ags)