Tidak cuma itu, rencana Kementerian Keuangan menyerap pembiayaan sebelum tahun pelaksanaan anggaran (pre-funding) di akhir tahun juga berpotensi menguras dana segar di pasar uang dalam jumlah besar. Apalagi potensi risiko obligasi pemerintah dinilai jauh lebih rendah ketimbang obligasi korporat.
Ekonom LPS Doddy Ariefianto mengatakan, potensi crowding out itu sangat bergantung defisit fiskal yang ditoleransi oleh pemerintah, dan realisasi belanja yang digelontorkan tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
LPS mencatat, likuiditas perbankan mengalami tekanan yang diduga akibat tingginya kebutuhan dana untuk membayar tebusan amnesti pajak. Hal itu tercermin melalui kondisi posisi operasi pasar terbuka (OPT) pada September 2016 yang mencapai Rp145,06 triliun atau turun 40,9 persen secara bulanan (month to month/mtm).
"Kondisi perbankan yang ketat akhir tahun biasanya karena bank ingin mengejar target kinerja, sehingga biasanya mereka akan menggenjot kreditnya," tutur Doddy.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menyarankan, untuk mengatasi keringnya likuiditas ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) bisa berkoordinasi dengan baik terkait dengan menekan dampak dari penerbitan obligasi pemerintah.
"Selama ini, banyak dipicu masalah kurang koordinasi pemerintah dan BI," ungkapnya.
"Kalau sewaktu-waktu di PUAB (Pasar Uang Antar Bank) bunganya tinggi, bisa kesitu ke LF di BI," jelasnya.
Hingga kini, BI tercatat telah melakukan intervensi sekitar Rp75 triliun untuk menambah likuditas yang ada di pasar. Diharapkan, melalui intervensi itu kondisi likuiditas dapat terjaga dengan aman hingga akhir tahun. (bir)