Wijaya Karya Jemput Bola Dana Kereta Cepat Sampai ke Beijing

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 22/12/2016 15:28 WIB
Wijaya Karya Jemput Bola Dana Kereta Cepat Sampai ke Beijing Hal tersebut dilakukan karena saham proyek kereta cepat dimiliki oleh konsorsium pemerintah China sebesar 40 persen, dan sisanya 60 persen oleh Indonesia. (REUTERS/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) bakal melakukan pembahasan terakhir menjelang akhir tahun 2016 ini terkait penyelesaian proses pencairan dana pembiayaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Kedua pihak bakal berangkat ke Beijing dalam waktu dekat untuk bertemu dengan lembaga keuangan yang memberikan pinjaman, yaitu China Development Bank (CDB).

"Memang agak lama prosesnya, karena Bank Sentral China memberi pengecualian bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan CDB," ungkap Direktur Keuangan Wijaya Karya Steve Kosasih, Kamis (22/12).


Pengecualian ini diberikan karena China juga menggenggam saham yang tak sedikit dalam proyek tersebut. Seperti diketahui, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini memang bekerja sama dengan pemerintah China.

Total kepemilikan saham konsorsium China sendiri sebesar 40 persen, sedangkan total saham yang dimiliki oleh Indonesia melalui konsorsium Wijaya Karya dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), PTPN VIII, dan PT Jasa Marga Tbk dengan total saham 60 persen.

Konsorsium beberapa perusahaan Indonesia ini masuk dalam KCIC. Nantinya, KCIC akan mendapatkan fasilitas pinjaman lunak jangka panjang karena proyeknya tidak dibiayai oleh pemerintah atau masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Karena itu dana penyertaan modal negara (PMN) dan hasil rights issue tidak boleh dipakai sama sekali untuk kereta cepat," imbuhnya.

Fasilitas pinjaman tersebut, lanjut Steve, diberikan dalam dua mata uang yang sebagian besar dalam bentuk dolar Amerika Serikat dan sisanya dalam mata uang yen. Dalam pinjaman dolar AS, CDB akan memberikan bunga 2 persen dalam 40 tahun ke depan.

"Lalu 10 tahun grace period, kalau begitu sama sekali enggak untung bank nya karena mereka betul-betul mau masuk Indonesia. Jangka panjang mereka mau buka pabrik di sini karena mau buka proyek di Asia Tenggara," jelas Steve.

Sementara, Wijaya Karya optimistis target pengerjaan konstruksi proyek kereta cepat ini dapat diwujudkan yakni, mulai tahun depan. Meski kondisinya proyek ini terus terhambat karena lambannya proses pembebasan lahan dan proses pencairan pinjaman dana dari CDB yang tak kunjung terealisasi.

"Tanah itu sedikit lagi yang belum, yang punya itu ada milik negara, sudah dibawa ke Rapat Terbatas (ratas), tahun ini bisa dibuka," ujar Direktur Utama Wijaya Karya Bintang.

Selain itu, masih ada beberapa lahan milik swasta misalnya di daerah Karawang yang dimiliki oleh dua perusahaan. Bintang mengaku, telah mencapai tahap negosiasi sehingga dapat segera masuk untuk pengetesan tanah. Sehingga, total lahan yang telah dibebaskan hingga saat ini sekitar 82 persen.

Bintang optimistis tahap pencairan dana dapat dilakukan akhir tahun ini atau tepatnya mendekati tanggal 31 Desember mendatang. Sementara, proses konstruksi yang dilakukan tahun depan ditargetkan dapat rampung pada 2019.

"Kami coba selesai ngebut meski waktu mulainya mundur beberapa bulan," kata Bintang. (gir/gen)