GAPMMI Menolak Prediksi Industri Makanan Minuman Lesu di 2017

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 22/12/2016 18:04 WIB
GAPMMI Menolak Prediksi Industri Makanan Minuman Lesu di 2017 Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menyangkal prediksi pemerintah bahwa industri makanan minuman akan tumbuh lebih lambat di tahun depan. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) optimistis industri makanan dan minuman (mamin) bisa tumbuh minimal 8,5 persen di tahun 2017 mendatang.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menyebutkan, harga komoditas pangan dari sektor pertanian dan perkebunan yang diperkirakan cukup stabil di tahun depan menjadi salah satu pemicu keoptimisannya itu.

Hal tersebut diungkapkan Adhi sebagai respons atas ramalan Kementerian Perindustrian bahwa pertumbuhan industri mamin akan melambat tahun depan setelah menjadi pendorong utama pertumbuhan industri sepanjang 2016.


"Harga komoditas pangan saya rasa akan stabil dan ini menjadi modal stabilitas industri mamin. Ini akan memicu peningkatan daya beli masyarakat, ekonomi juga tergerak," ujar Adhi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/12).

Tak hanya itu, Adhi mengungkapkan realisasi kinerja industri binaan GAPMMI sepanjang tahun ini bahkan melebihi ekspektasi para pelaku usaha.

Ia menyebutkan, di awal tahun ini banyak pelaku usaha banyak yang memproyeksikan pertumbuhan industri mamin hanya bertengger di angka 8 persen saja.

Namun, hingga kuartal III tahun 2016 industri mamin rupanya mampu mencetak pertumbuhan di angka 8,55 persen.

Faktor lain yang disebut Adhi juga memberi sentimen positif kepada pertumbuhan industri mamin, adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,1 persen dan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 yang lebih realistis.

"Dari proyeksi pertumbuhan ekonomi dan anggaran sudah lebih realistis, ini bisa membuat minat investasi lebih baik, lebih cepat, termasuk ke industri mamin," imbuh Adhi.

Sentimen Negatif

Ia bilang sejumlah sentimen positif ini bisa menjadi suplemen bagi peningkatan pertumbuhan industri mamin. Sedangkan untuk proyeksi sentimen negatif yang harus dihadapi industri mamin, disebutnya berasal dari regulasi 'aneh' yang kerap diciptakan pemerintah.

Sentimen negatif tersebut, yakni kewajiban sertifikasi produk halal, penarikan cukai kemasan plastik, kewajiban pengelolaan sampah kemasan mamin, dan pengenaan bea masuk anti dumping.

"Dari semua itu, kewajiban sertifikasi produk halal yang paling besar dampaknya kepada industri mamin bila jadi diterapkan. Karena produk yang tidak berlabel halal, langsung jatuh dari pasaran," jelas Adhi.

Sedangkan untuk pengenaan cukai plastik dan pengelolaan sampah kemasan mamin, disebut Adhi, akan menambah biaya perusahaan sektor mamin, sehingga bisa membuat harga melonjak.

"Kalau bea masuk anti dumping, daya saing kita bisa turun karena itu. Semoga pemerintah tidak memberlakukannya,” tutup Adhi.

Untuk diketahui, sebelumnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan pada tahun depan, industri mamin masih akan menjadi motor penggerak industri nasional.

Hanya saja, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meramalkan, pertumbuhan industri mamin akan sedikit menurun ke kisaran 7,5 persen sampai 7,8 persen dari proyeksi 2016 yang berada dikisaran 8,2 persen sampai 8,5 persen. (gen)