Ahmad Heri Firdaus, pengamat ekonomi Indef mengatakan, langkah AS menarik diri dari TPP perlu diikuti Indonesia. Pasalnya, keikutsertaan Indonesia dalam TPP hanya akan menguntungkan negara lain yang tergabung dalam TPP.
Menurutnya, indikasi kerugian Indonesia bila mengikuti TPP terlihat dari kebijakan hambatan non-tarif yang diberlakukan dalam kesepakatan multilateral itu. Hambatan non-tarif membuat tiap-tiap negara dalam TPP tak boleh memberikan bea masuk terhadap hasil industri yang diekspor, termasuk ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara rata-rata, lanjut Heri, industri manufaktur, jasa, dan industri pendukung Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Indonesia bahkan jauh tertinggal dari Vietnam yang telah bergabung dengan TPP.
“Ini menandakan, Indonesia perlu memperkuat basis industri terlebih dahulu sebelum bergabung dengan perdagangan bebas, seperti menguatkan hilirisasi dan memberi nilai tambah serta daya saing,” imbuh Heri.
Selain itu, Heri mengatakan, Indonesia juga belum siap untuk ikut serta dalam perjanjian perdagangan bebas karena masih menggantungkan kinerja ekspor di sektor komoditas. Hal ini membuat kinerja ekspor mudah terguncang saat terjadi pelemahan harga komoditas dunia, seperti harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO).
“Sekarang harga CPO mulai naik, tapi lihat tahun lalu saat harga CPO tidak bagus. Jadi, seharusnya bukan mengekspor CPO tapi produk turunannya yang dihilirisasi kemudian diekspor,” kata Heri.
“Kami membatalkan semua rencana kerja sama yang bisa merugikan pekerja AS. Namun AS dalam posisi untuk melanjutkan renegosiasi the North American Free Trade Agreement (NAFTA), yang dibuat pada 1994 bersama Kanada dan Meksiko,” bunyi pernyataan resmi dari kantor Trump, kemarin.
Trump menilai, perjanjian perdagangan bebas semacam TPP hanya mengakomodir kepentingan pejabat di Washington yang menerima kerja sama perdagangan, namun tak menguntungkan kaum pekerja AS.
Lihat juga:PM Jepang: TPP Tidak Akan Berguna Tanpa AS |