Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Jarman menyebut, semua protes ini berasal dari masyarakat yang seharusnya menerima subsidi berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Namun sesuai data PT PLN (Persero), golongan masyarakat ini tidak tercantum di dalam daftar penerima subsidi.
"Terjadi bahwa di data identitas (ID) pelanggan PLN, mereka tidak tercatat sebagai peneriman subsidi. Tapi di data TNP2K, mereka tercatat sebagai orang miskin. Data ini yang sedang kami upayakan untuk di-match ulang," jelas Jarman di kantornya, Rabu (10/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka dari itu, ia berharap masyarakat miskin yang pindah rumah kontrakan agar melapor dulu ke PLN agar subsidinya tidak dicabut.
Jarman melanjutkan, pemerintah telah memproses 110 keluhan di mana hak subsidinya telah dikembalikan seluruhnya. Sehingga, total keluhan yang masih belum diproses tinggal 230 protes.
Namun, ada kemungkinan jumlah keluhan bertambah lagi pada pekan ini. Seharusnya, protes-protes ini akan masuk hari Jumat, namun ia mengaku belum mendapat laporannya.
"Sebagian lagi sedang kami cek, karena baru masuk Kamis atau Jumat laporan barunya. Prinsipnya, semua yang masuk secara aplikasi itu akan diproses, di mana 110 itu sudah langsung ditangani oleh PLN,"
Saat ini, terdapat 23,04 juta pelanggan yang menggunakan listrik berdaya 900 VA. Dengan demikian, terdapat 18,94 juta pelanggan 900 VA yang tidak bisa lagi menikmati subsidi listrik di tahun ini. (gir/gen)