ANALISIS
Menguji Kekuatan RI jadi Mesin Ekonomi Terbesar Keempat Dunia
CNN Indonesia
Sabtu, 11 Feb 2017 12:45 WIB
Terakhir, ekspor dan impor. Kinerja neraca perdagangan sepanjang tahun lalu membukukan surplus mencapai US$8,78 miliar dengan ekspor US$144,43 miliar dan impor US$135,65 miliar.
Realisasi neraca perdagangan memang meningkat sekitar 14,47 persen dibandingkan 2015. Hanya saja, nilai ekspor tergolong melemah akibat sentimen perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas di awal 2016.
Sedangkan dari sisi impor, masih didominasi oleh impor barang konsumsi dan impor untuk bahan baku dan bahan penolong justru turun.
Enny menilai, pemerintah harus serius menggedor industri dalam negeri untuk mendapatkan peningkatan ekspor dan rendahnya impor konsumsi yang kemudian lebih cenderung mengimpor bahan baku untuk kemudian diolah oleh industri manufaktur dalam negeri.
Untuk ekspor, pemerintah perlu serius melakukan hilirisasi agar nilai tambah dan daya saing produk lokal kian meningkat dan dapat mendongkrak ekspor.
"Hilirisasi nomor satu karena efeknya membuat Indonesia tidak bergantung pada ekspor komoditas, membuat lebih banyak industri yang bergerak, dan menciptakan lapangan kerja," jelas Enny.
Adapun industri yang dinilai masih memiliki daya saing, yakni industri sektor pertanian dan hilirnya, seperti makanan dan minuman serta pengelolaan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Lalu, industri dasar, seperti hilirisasi pertambangan dengan membangun smelter.
Kemudian, industri tekstil dan produk tesktil (TPT) dan perikanan yang disebut Enny mengalami peningkatan cukup menjanjikan sepanjang tahun lalu.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal menambahkan, sektor pariwisata dan konstruksi juga berpotensi ditingkatkan karena diperkirakan memiliki sumbangan yang besar pada ekonomi Indonesia bersamaan dengan langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenjot dua sektor tersebut.
"Bersamaan dengan rencana pemerintah membangun infrastruktur dengan pengalokasian anggaran yang jor-joran ke infrastruktur seharusnya sektor konstruksi ikut kecipratan," kata Faisal. Add
as a preferred
source on Google
Realisasi neraca perdagangan memang meningkat sekitar 14,47 persen dibandingkan 2015. Hanya saja, nilai ekspor tergolong melemah akibat sentimen perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas di awal 2016.
Sedangkan dari sisi impor, masih didominasi oleh impor barang konsumsi dan impor untuk bahan baku dan bahan penolong justru turun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk ekspor, pemerintah perlu serius melakukan hilirisasi agar nilai tambah dan daya saing produk lokal kian meningkat dan dapat mendongkrak ekspor.
Adapun industri yang dinilai masih memiliki daya saing, yakni industri sektor pertanian dan hilirnya, seperti makanan dan minuman serta pengelolaan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Lalu, industri dasar, seperti hilirisasi pertambangan dengan membangun smelter.
Kemudian, industri tekstil dan produk tesktil (TPT) dan perikanan yang disebut Enny mengalami peningkatan cukup menjanjikan sepanjang tahun lalu.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal menambahkan, sektor pariwisata dan konstruksi juga berpotensi ditingkatkan karena diperkirakan memiliki sumbangan yang besar pada ekonomi Indonesia bersamaan dengan langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenjot dua sektor tersebut.
"Bersamaan dengan rencana pemerintah membangun infrastruktur dengan pengalokasian anggaran yang jor-joran ke infrastruktur seharusnya sektor konstruksi ikut kecipratan," kata Faisal. Add
as a preferred source on Google