Bahkan, Darmin memproyeksi harga cabai rawit dan bawang merah yang masih tinggi di bulan Februari lalu akan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya jumlah pasokan dari panen raya petani.
"Komoditas pangan kalau (harganya) sudah tinggi, kecenderungannya bisa berlawanan pada bulan-bulan berikutnya," ucap Darmin di Kementerian Keuangan, Rabu (1/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini, lanjut Darmin, membuat dirinya tak begitu khawatir dengan sumbangan inflasi dari komoditas cabai rawit dan bawang merah sekalipun harganya tak turun signifikan di Maret dan April mendatang.
Darmin memastikan, pemerintah akan terus memantau rantai pasokan komoditas pangan di beberapa sentra produksi dan rantai distribusi pangan untuk memastikan harga sejumlah komoditas pangan tetap berada pada tingkat yang aman.
Kemudian, dari sisi tingkat harga yang diatur pemerintah (administered price), Darmin mengatakan, komponen tersebut memang memiliki peluang yang besar untuk mengerek inflasi, bersamaan dengan kebijakan pemerintah untuk menaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk pelanggan listrik berkapasitas 900 voltampere (VA) secara bertahap.
Hanya saja, bagi Darmin, hal tersebut telah diatura sedemikian rupa dengan skema kenaikan bertahap sehingga diperkirakan tak mengerek kontribusi yang signifikan dari administered price terhadap laju inflasi di Maret mendatang.
"Jadi, waktunya sudah kita sesuaikan sehingga tidak begitu banyak dampaknya. Makanya, kita atur satu per satu," pungkasnya.
Adapun dari sisi komponen, administered price masih menjadi penyumbang terbesar bagi inflasi Februari, yakni sebesar 0,58 persen, dengan andil kenaikan TDL sebesar 0,11 persen.
Sementara, komponen gejolak harga pangan (volatile foods) menyumbang inflasi sebesar 0,36 persen dan inflasi komponen inti sebesar 0,37 persen. (gir)