Penyelamat Kerajaan Arab Itu adalah IPO Saudi Aramco

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 29/03/2017 09:30 WIB
Penyelamat Kerajaan Arab Itu adalah IPO Saudi Aramco Pemerintah Negeri Minyak memberikan Saudi Aramco hadiah besar minggu ini dengan pemotongan tarif pajak perusahaan menjadi 50 persen, dari 85 persen. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi yang kini kekurangan uang kas benar-benar berharap perusahaan mahkota permata kerajaan minyaknya bisa menggelar penawaran saham perdana (Intial Public Offering/IPO) dengan sukses.

Pemerintah Negeri Minyak itu memberikan Saudi Aramco hadiah besar minggu ini dengan pemotongan tarif pajak pada perusahaan minyak nasional menjadi 50 persen dari 85 persen.

Seperti dilansir dari CNN Money, kerajaan tersebut menekankan bahwa tarif pajak yang berkurang drastis dan berlaku surut ke awal 2017 tersebut akan diimbangi dengan dividen dan keuntungan investasi.


Keringanan pajak yang besar juga akan menambah puluhan miliar dolar AS untuk pundi-pundi Aramco pada saat muncul kekhawatiran terkait seberapa besar nilai perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut.

Sementara, sebelumnya pihak Arab Saudi telah menyatakan Aramco bisa memiliki nilai hingga US$2 triliun pada IPO yang diperkirakan terjadi di 2018. Namun, beberapa analis percaya bahwa harga itu terlalu murah.

Arab Saudi sangat membutuhkan IPO Aramco berjalan lancar karena akan menghasilkan rejeki nomplok kas pada saat pendapatan minyak terjun dan telah menciptakan lubang di anggaran negara.

Menurut Rystad Energi, penurunan tarif pajak tersebut diklaim oleh Arab Saudi bisa menambah US$1 triliun untuk valuasi Aramco. Perusahaan riset tersebut sekarang menaksir valuasi Aramco di angka US$1,4 triliun, melonjak dibandingkan dengan hanya US$400 miliar sebelumnya.

"Perubahan Pajak ini memiliki dampak besar. Perubahan ini berarti lebih banyak uang yang tersisa untuk Saudi Aramco, yang membuat perusahaan lebih menarik bagi investor," tulis Rystad dalam sebuah laporan pada hari Selasa

CEO Aramco Amin Nasser mengaku gembira dan menilai pemangkasan pajak Arab Saudi sebagai langkah positif dalam diversifikasi ekonomi kerajaan.

Arab Saudi adalah eksportir minyak terbesar di dunia, namun keuangannya telah tertatih-tatih oleh melimpahnya pasokan akibat revolusi minyak shale AS. Upaya OPEC untuk melawan produsen minyak shale dengan harga minyak murah membuat level harga jeblok ke level bawah, membuat Arab perlu menyeimbangkan anggaran.

Karena jebloknya harga minyak, kerajaan telah dipaksa untuk memberhentikan pekerja, menghapus subsidi murah hati dan menjual utang kepada publik.

Tahun lalu, Arab Saudi mengumumkan strategi baru yang dijuluki Visi 2030 yang bertujuan untuk memecah negara dari "kecanduan" bisnis minyak mentah. Sebuah komponen kunci dari rencana itu adalah untuk menjual saham Aramco untuk umum dan kemudian menginvestasikan hasil di dalam dan luar negeri.

Aramco menyatakan bahwa IPO masih sesuai jadwal pada 2018 dan perusahaan baru-baru menunjuk sebuah bank investasi kecil AS untuk menjadi penasihat independen perusahaan.

Jika perusahaan minyak nasional tersebut mencapai valuasi US$2 triliun, maka hanya perlu menjual 5 persen saham untuk meningkatkan US$100 miliar. Yang akan menghasilkan dana empat kali lipat dari IPO Alibaba pada 2014, yang merupakan IPO terbesar.

Menteri Keuangan Saudi Saudi Mohammed bin Abdullah Al-Jadaan menekankan bahwa keringanan pajak pada Aramco dan perusahaan minyak besar lainnya tidak berdampak pada kemampuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada warganya.

Sebelumnya, Raja Salman bin Abdulaziz juga menggelar kunjungan bisnis ke berbagai negara dari mulai Indonesia hingga China. Di beberapa kesempatan, Saudi Aramco diikutsertakan dalam kerja sama bisnis antar negara.

Di Indonesia, Saudi Aramco meneken perjanjian kerja sama bisnis dengan PT Pertamina (Persero). Keduanya sepakat bekerja sama mengembangkan program penambahan kapasitas dan kompleksitas kilang (refinery development master plan/RDMP) Cilacap. Nilai kerja sama disebut mencapai US$6 miliar.