Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja menjelaskan, 60 ribu SR ini tersebar di sembilan kabupaten dan kota, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin, Kota Bandar Lampung, DKI Jakarta, Kota Mojokerto, Kota Pekanbaru, Kabupaten PALI, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Mojokerto, Kota Samarinda, dan Kota Bontang. Wilayah-wilayah ini dipilih karena dekat dengan lokasi sumur gas.
"Di wilayah ini sudah terdapat sumber gas di sekitarnya. Selama ini, kami beli gas dari Qatar dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Arab Saudi, lalu disebarkan ke masyarakat. Padahal, di sembilang wilayah ini ada sumur gas, sehingga Indonesia tidak perlu impor LPG lagi," ujar Wiratmaja, Rabu (29/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pada awalnya Kementerian ESDM menargetkan jargas bisa dinikmati 200 ribu SR pada tahun ini. Sayangnya, karena keterbatasan anggaran, realisasinya hanya 30 persen dari target.
Wiratmaja menuturkan, anggaran yang ada bisa membangun jargas dengan kapasitas 0,25 MMSCFD per kotanya. Sehingga, kapasitas total sembilan kota itu bisa mencapai 1,8 hingga 2 MMSCFD.
"Kami harap masyarakat dan industri kecil bisa menggunakan energi bersih. Selain itu, karena ini menggunakan gas yang ada di sekitar, ini bisa membantu penghematan devisa karena impor LPG-nya juga berkurang," pungkas Wiratmaja.
Sebagai informasi, Kementerian ESDM telah melaksanakan pembangunan jargas sejak tahun 2009 dengan jumlah sambungan sebesar 185,9 ribu SR di 26 kabupaten dan kota yang terletak di 14 provinsi.