Gubernur BI Sebut ASEAN Belajar Banyak dari Krisis

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Jumat, 28/04/2017 21:12 WIB
Gubernur BI Sebut ASEAN Belajar Banyak dari Krisis Gubernur BI Agus Martowardojo menyebut dinamika ekonomi global selama 20 tahun telah memberikan tantangan yang semakin kompleks bagi ASEAN. (Courtesy bi.go.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Krisis keuangan regional tahun 1998 lalu telah membawa banyak pelajaran bagi negara-negara ASEAN. Waktu itu, negara seperti Indonesia dan Thailand harus masuk dalam daftar negara-negara yang harus diselamatkan oleh lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) untuk selamat dari krisis.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo mengungkapkan seiring berjalannya waktu, negara-negara ASEAN terus bertahan dan mampu memperbaiki kerangka kerjanya sebagai ekonomi yang unik dengan visi yang kuat.

"ASEAN siap untuk pindah ke tingkat berikutnya, untuk menjadi ekonomi yang sangat terintegrasi dan kohesif, wilayah yang kompetitif dan dinamis, dengan aktivitas yang disempurnakan serta orientasi yang inklusi. Pada saat yang sama, ASEAN akan benar-benar menjadi pemain global," ujar Agus dalam seminar Global Economic Outlook ASEAN Perspective, Jumat (28/4).


Ia mengatakan, dinamika ekonomi global selama 20 tahun terakhir telah memberikan tantangan yang semakin kompleks bagi ASEAN. Terlebih dalam beberapa waktu terakhir, tantangan tersebut bersumber dari negara-negara maju yang mulai menunjukkan sifat proteksionismenya seperti Amerika Serikat dan negara-negara besar di Eropa.

"Proteksionisme dan anti multilateralisme mulai terbentuk, tapi saya percaya ASEAN memiliki cukup pengalaman sejak krisis 1997-1998 untuk tetap waspada," ujarnya.

Mantan Menteri Keuangan itu meyakini, negara-negara ASEAN cukup adaptif dan telah menjadi kelompok ekonomi baru. Kelompok ini telah menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat dan telah mendapat kepercayaan tinggi dari pelaku ekonomi global.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi ASEAN pun mencapai 5,5 persen per tahun dalam 15 tahun terakhir. Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,9 persen. Nilai perdagangan Asean sebagai bagian dari nilai perdagangan dunia meningkat menjadi 6,9 persen pada tahun 2015.

Sebagai bagian dari ASEAN, Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi.

Meskipun ekonomi dunia melambat, perekonomian indonesia mampu melaju 5,02 persen pada tahun 2016 didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, peningkatan ekspor dan investasi.

"Walaupun ini masih di bawah pertumbuhan historis kita sebesar 5,8 persen pada 2005-2015 tingkat pertumbuhan ini masih disukai dibandingkan dengan negara-negara sebaya. Pertumbuhan ekonomi yang kuat juga didukung oleh lingkungan ekonomi makro yang stabil," pungkasnya.