Arcandra mengatakan, pembiayaan internasional memiliki suku bunga pinjaman yang relatif lebih rendah dibanding perbankan nasional. Jika investor mendapat dana yang lebih murah, maka pengembang listrik swasta seharusnya tak perlu mengkhawatirkan tingkat pengembalian (rate of return) investasinya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, rata-rata rate of return pembangkit EBT di Indonesia berada di kisaran 12 persen per tahun. Sementara itu, perbankan nasional memiliki suku bunga pinjaman sebesar 10 persen hingga 11 persen per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pembiayaan internasional, mereka punya suku bunga pinjaman mencapai 5 hingga 6 persen saja. Sehingga, selisih rate of return dengan bunganya bisa mencapai 5 hingga 6 persen atau lebih baik dibandingkan bank nasional. Kalau begini, investasi pembangkit EBT lebih workable," imbuhnya.
Oleh karenanya, Kementerian ESDM bersedia memfasilitasi investor dan lembaga pembiayaan internasional dalam waktu dua pekan mendatang dan mencari tahu proyek-proyek apa saja yang bisa dikerjakan bersama-sama.
Toh, tawaran lembaga pembiayaan internasional ini sangat menarik. Apalagi, ada satu lembaga yang bersedia memberikan pembiayaan dengan bunga hanya dua persen per tahun saja.
"Saya dengar dari sisi lender (peminjam),
Rendahnya bunga pinjaman, Arcandra menilai, juga penting sebagai salah satu variabel yang membuat tarif produksi listrik berbasis EBT bisa lebih rendah.
Ambil contoh, tarif listrik tenaga surya di Uni Emirat Arab yang bisa mencapai US$0,02 per Kilowatt-Hour (KWh) karena bunga pinjamannya hanya 2,5 persen per tahun.
Berbanding terbalik dengan Indonesia, di mana rata-rata Biaya Pokok Pembangkitan (BPP) paling kecil hanya US$0,06 per KWh.
"Sebenarnya, bagi saya pribadi, saya lebih memilih untuk menggunakan lembaga pembiayaan internasional saja selama pembiayaan lokal tak kompetitif," ucapnya.
Menurut Rencana Usaha Penyediaan Usaha Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2017 hingga 2026 terdapat tambahan kapasitas pembangkit berbasis EBT sebanyak 21.549 Megawatt (MW) pada 2026 nanti serta berkontribusi terhadap bauran energi (energy mix) sebesar 22,4 persen.
Hingga kuartal I lalu, kapasitas pembangkit EBT terpasang tercatat sebesar 5.953 MW atau 11 persen dari total kapasitas pembangkit nasional 54.015 MW.