Jonan Minta Inpex Kebut Pengembangan Blok Masela

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 17/05/2017 09:49 WIB
Jonan Minta Inpex Kebut Pengembangan Blok Masela Inpex diminta bekerja sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk melanjutkan proses. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah meminta Inpex Corporation untuk segera memproses preliminary Front End Engineering Design (pre-FEED) kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) bagi produksi gas asal blok Masela. Pasalnya, pemerintah merasa pembahasan mengenai pengembangan Masela sudah terlampau lama.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, Inpex harus bekerja sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk melanjutkan proses pre-FEED ini.

Beberapa pembahasan yang sedianya harus dibicarakan antara lain tahapan pelaksanaan pre-FEED, kapasitas produksi, serta lokasi kilang onshore.


Terkait lokasi kilang, Jonan menyampaikan ada tiga opsi wilayah. Namun, pemerintah tidak menghendaki lokasi tertentu.

"Pemerintah tidak punya preferensi khusus terkait lokasi," ucap Jonan dikutip melalui siaran pers dikutip Rabu (17/5).

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Inpex Corporation and President Inpex Corp Toshiaki Kitamura menyatakan, perusahaannya siap untuk segera memulai tahapan pre-FEED.

"Inpex setuju segera melaksanakan workshop bersama SKK Migas, guna membahas poin-poin strategis untuk memulai pre-FEED," ujarnya.

Sebagai informasi, Pre FEED merupakan tahapan studi konseptual mengenai proyek fasilitas produksi. Di dalam proses pre-FEED, dilakukan proses identifikasi dan seleksi jenis, konsep, dan konfigurasi fasilitas produksi yang paling sesuai.

Untuk kilang LNG blok Masela, pre FEED dilakukan demi menentukan kapasitas dan lokasi kilang. Dalam hal ini, pemerintah memberikan dua opsi kapasitas kilang yaitu LNG sebanyak 7,5 metrik ton per annum (MTPA) ditambah gas pipa sebesar 474 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan LNG sebesar 9,5 MTPA dan 150 MMSCFD gas pipa.

Di samping itu, pemerintah juga sebelumnya memberikan dua opsi lokasi kilang yaitu Pulau Yamdena dan Pulau Aru.

Pertemuan dengan Inpex merupakan satu dari serangkaian kunjungan kerja Jonan ke Jepang dalam pekan ini. Selain bertemu Inpex, Jonan juga bertandang ke kantor pusat Japan Bank for International Cooperation (JBIC), kantor pusat Itochu Corp, dan ditutup dengan makan siang bersama mantan Perdana Menteri Jepang Yosua Fukuda.

Sebagai informasi, Inpex mulai mengelola blok Masela sejak tahun 1998 sejak ditandatangani kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) dengan jangka waktu 30 tahun.

Setelah itu, rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) pertama blok Masela ditandatangani pemerintah pada 2010. Diketahui, Inpex memiliki hak partisipasi sebesar 65 persen sedangkan sisanya dikempit oleh mitranya, Shell Upstream Overseas Services Ltd

Kemudian di tahun 2014, Inpex bersama Shell merevisi PoD setelah ditemukannya cadangan baru gas di Lapangan Abadi, Masela dari 6,97 TCF ke angka 10,73 TCF. Di dalam revisi tersebut, kedua investor sepakat akan meningkatkan kapasitas fasilitas LNG dari 2,5 MTPA menjadi 7,5 MTPA secara terapung (offshore).

Namun, di awal tahun 2016 silam, Presiden Joko Widodo meminta pembangunan kilang LNG Masela dilakukan dalam skema darat (onshore).