Analisis

Menakar Saham Tambang Pasca Rilis MSCI Index

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 17/05/2017 12:08 WIB
Sejumlah emiten tambang batu bara masuk dalam daftar Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index yang baru. Bagaimana prospeknya? (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah emiten batu bara masuk dalam daftar Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index untuk kategori kapitalisasi pasar kecil atau disebut juga dengan MSCI Global Small Cap Indexes.

Sekadar informasi, Morgan Stanley memasukan 10 emiten baru dalam daftar MSCI Indonesia Index. Meski sudah merombak daftar sejak 15 Mei kemarin, tetapi daftar baru ini baru mulai berlaku pada Juni mendatang.

Adapun 10 emiten baru yang masuk dalam daftar MSCI Indonesia Index, di antaranya PT Blue Bird Tbk (BIRD), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indofarma Tbk (INAF), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).


Selanjutnya, PT MNC Investama Tbk (BHIT), PT Pelat Timah Nusantara (NIKL), PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).

Umumnya, Morgan Stanley hanya melakukan perubahan atau perombakan dua kali dalam setahun untuk MSCI Indonesia Index. Perombakan biasanya dilakukan pada bulan Mei dan November.

Indeks tersebut akan menjadi acuan bagi investor global dan perusahaan manajer investasi dalam melakukan transaksi di pasar modal. Artinya, bukan tidak mungkin seluruh emiten yang masuk dalam daftar MSCI akan diburu oleh investor asing.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava menjelaskan, Bumi Resources masuk kembali dalam MSCI setelah dalam empat tahun terakhir nama perusahaan tidak tercantum di daftar MSCI.

Beberapa faktor yang menurutnya mendorong Bumi Resources masuk dalam MSCI, yakni kapitalisasi pasar, kinerja keuangan, dan tingkat likuiditas.

"Ya, seluruh faktor itu yang menjadi faktornya. Kemudian, kemampuan investasi sebagai kriteria utama," terang Dileep kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/5).

Sementara itu, perusahaan juga akan segera menerbitkan saham baru melalui skema rights issue sebesar US$2,6 miliar dengan nilai Rp926 per saham sebagai salah satu upaya perusahaan melakukan restrukturisasi utang. Sehingga, adanya perputaran arus kas diakui Dileep akan menghasilkan keuntungan tersendiri bagi perusahaan.

"Kinerja yang mengungguli operasi dan peningkatan lebih baik, dan peningkatan tata kelola perusahaan diharapkan dapat memperbarui dari level kapitalisasi kecil ke kategori yang lebih tinggi," papar Dileep.
1 dari 3