Kepala BKF Kemenkeu Suahasil Nazara mengatakan, indikator tersebut berasal, baik dari sisi fiskal maupun moneter yang dituangkan dalam kebijakan yang lebih struktural sehingga bisa lebih efektif dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi.
"Kisaran itu menunjukkan kondisi yang bisa dicapai oleh Indonesia. (Indikatornya) macam-macam; investasi sekian persen, ekspor sekian persen, pengeluaran sekian persen. Kalau terpenuhi bisa (pertumbuhan ekonomi di kisaran) 5,4 persen sampai 6,1 persen," kata Sua, sapaan akrabnya, di Kementerian Keuangan, Selasa (23/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu bukan hitungan teknokratis tapi hitungan kami bisa sampai ke situ. Kalau kondisi begini, bisa tumbuh 5,4 persen, kalau begini bisa 5,6 persen, kalau begini bisa 6,1 persen," imbuh Sua.
Selain itu, Sri Mulyani juga membidik suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan mencapai 4,8 persen sampai 5,6 persen, asumsi harga minyak mentah Indonesia pada kisaran US$45 sampai US$60 per barel, dan lifting minyak dan gas bumi (migas) mencapai 1,965 juta sampai 2,05 juta barel per hari.
Adapun target lifting migas tersebut, terdiri dari lifting minyak sebanyak 771 ribu bph dan lifitng gas sebanyak 1,1 juta sampai 1,2 juta bph setara minyak per hari.