Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan, tawaran dari perusahaan multinasional ini datang ketika pemerintah mengatakan bahwa pertamina bisa mengembalikan blok-blok migas ini kepada pemerintah jika tak sanggup mengelolanya. Meski tak menyebut nama-nama perusahaannya, ia menyebut korporasi asal China, Malaysia, dan Rusia sudah menyatakan minatnya.
"Begitu mendengar Pertamina bisa mengembalikan blok-blok ini ke pemerintah, banyak perusahaan multinasional yang mengontak," ujar Wiratmaja ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (8/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memang berharap Pertamina bisa mengelola delapan blok terminasi ini karena potensinya menjanjikan," katanya.
Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengunjungi China untuk menemui tiga perusahaan migas asal negara tirai bambu tersebut, yakni China National Petrolium Corporation (CNPC), China Petrochemical Corporation (Sinopec), dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC). Maksud kunjungan Jonan adalah untuk menawarkan investasi hulu migas melalui lelang WK yang diadakan pemerintah serta kemitraan dengan Pertamina di dalam menggarao blok terminasi.
Menurutnya, ketiga perusahaan tersebut memiliki reputasi yang baik. Hal itu terlihat dari posisinya di dalam daftar Fortune 500, di mana CNPC, Sinopec, dan CNOOC menduduki peringkat 3, 4 dan 109. Sementara itu, Pertamina sendiri bertengger di posisi 220 dalam daftar yang sama.
"Saya mengundang mereka untuk meningkatkan investasi di hulu migas Indonesia," kata Jonan melalui siaran pers.
Dari delapan blok migas tersebut, lima diantaranya merupakan peralihan dari kontraktor yang berbeda. WK migas itu terdiri dari blok Sanga-Sanga yang dioperatori Virginia Indonesia Co LLC, blok South East Sumatera yang dioperatori CNOOC SES Ltd, lok Tengah oleh Total E&P Indonesie, blok East Kalimantan yang dioperatori Chevron Indonesia Company, dan blok Attaka yang sebelumnya dioperatori Inpex Corporation.
Sementara itu, tiga blok lain yang terdiri dari Blok North Sumatera Offshore (NSO) dan dua blok berbentuk Joint Operating Body (JOB) Tuban dan Ogan Komering sebelumnya sudah dikerjakan oleh Pertamina.