Padahal, pemerintah berharap pertumbuhan di akhir tahun bisa tumbuh 16,6 persen. Adapun dengan pemangkasan tersebut, target pertumbuhan perpajakan hanya 12,9 persen di tahun ini.
"Penurunan target ini merupakan upaya pemerintah untuk menciptakan target yang lebih realistis," ucap Darmin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Realisasinya dirasa mampu melampaui target di akhir tahun lantaran ada sentimen positif dari kenaikan harga minyak yang melebih target pemerintah sebesar US$45 per barel dan perubahan asumsi nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dari Rp13.300 per dolar AS menjadi Rp13.400 per dolar AS.
Bersamaan dengan itu, Darmin memproyeksi, penerimaan dari sumber daya alam (SDA) migas akan meningkat hampir Rp100 triliun atau 9,9 persen dari target awal, yaitu dari Rp87 triliun menjadi Rp95,6 triliun di R-APBNP 2017.
Sedangkan PNBP SDA non migas diproyeksi meningkat Rp100 miliar menjadi Rp23,4 triliun dan PNBP lainnya diperkirakan bisa meningkat Rp500 miliar karena adanya tambahan bagian pemerintah dari surplus Bank Indonesia (BI) sebesar Rp1,7 triliun. "Selain itu ada tambahan budget pemerintah atas surplus BI meskipun target PNBP atas Kementerian/Lembaga bergeser pada Badan Layanan Umum karena perubahan status," imbuh Darmin. (agi)