Dolar AS Menguat, Harga Minyak Anjlok

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 15/08/2017 06:55 WIB
Harga Brent LCOc1 tercatat melemah ke angka US$50,73 per barel, sedangkan harga West Texas Intermediate (WTI) melemah ke angka US$47,59 per barel. Pelaku pasar juga khawatir akan pasokan minyak yang berasal dari Libya. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak terjun 2,5 persen pada Senin waktu Amerika Serikat (AS) setelah sesi perdagangan yang bergejolak karena penguatan nilai tukar dolar AS dengan sejumlah mata uang dan lemahnya data permintaan China. Tak hanya itu, pelaku pasar juga khawatir akan pasokan minyak yang berasal dari Libya.

Dikutip dari Reuters, dolar AS meningkat seiring pelaku pasar yang tidak kembali mencemaskan adanya tensi antara AS dan Korea Utara. Sebab, sepanjang akhir pekan lalu, tidak muncul pernyataan-pernyataan yang membuat ketegangan antara kedua pemimpin negara, sehingga investor kembali memegang mata uang dolar AS. Data inflasi yang tak sesuai prediksi membuat nilai tukar juga ikut bergerak.

Sementara itu, permintaan kilang China juga ikut menekan harga minyak. Ini memperburuk kekhawatiran bahwa kelebihan suplai hasil industri kilang bisa memperlemah permintaan China akan minyak mentah.
Dengan demikian, harga Brent LCOc1 tercatat melemah US$1,37 per barel ke angka US$50,73 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,23 per barel ke angka US$47,59 per barel.


Pembatasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (OPEC) telah berhasil menopang harga Brent di atas US$50 per barel. Namun, analis dan pelaku pasar cemas bahwa produksi minyak AS bisa memperlemah upaya untuk mengurangi produksi.
Sebab, produksi minyak non-konvensional AS diperkirakan akan menanjak lagi pada bulan September mendatang. Adapun, produksi pada bulan tersebut diprediksi meningkat 117 ribu barel per hari ke angka 6,15 juta barel per hari menurut Energy Information Administration (EIA) AS. (agi/agi)