"Tapi ini lebih menggambarkan pergerakan bulanan, meskipun tipis defisitnya. Alasan terjadinya karena migas defisit cukup jauh yakni sebesar US$604 juta,"ujar Suharyanto dalam pengumuman resmi BPS di Jakarta, Selasa (15/8).
Suharyanto menjelaskan, total ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2017 mencapai US$93,6 miliar atau naik 17,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun khusus bulan Juli, ekspor Indonesia tercatat mencapai US$13,25 miliar atau naik 16,83 persen dibandingkan bulan Juni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada bulan Juli, menurut Suharyanto, beberapa harga komoditas seperti minyak kelapa sawit, cokelat, dan perak mengalami kenaikan. Sedangkan komiditas seperti alumunium, tembaga, karet, dan nikel mengalami kenaikan harga.
Dia pun menjelaskan, pangsa pasar ekspor Indonesia masih didominasi oleh tiga negara, yakni China, Amerika Serikat, dan Jepang. "Kendati demikian kami melihat ada juga peningkatan ekspor ke pasar-pasar negara nontradisional seperti ke Turki yang mengalami peningkatan hingga 100%," ungkap dia.
Adapun hingga Juli, pangsa pasar impor terbesar Indonesia masih berasal dari China, Jepang, dan Thailand.
(agi)