Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Supangkat Iwan Santoso menyebut, saat ini, konsorsium Pertamina masih melakukan pembahasan dengan calon pemberi pinjaman, yakni Japan Bank for International Coorporation (JBIC), Nippon Export and Investment Insurance (NEXI), serta Asian Development Bank (ADB). Jika financial closing rampung, maka konstruksi bisa dilakukan.
“Mereka belum waktunya financial closing, batasnya kira-kira enam bulan setelah sekarang. Awal tahun depan mungkin,” ujarnya ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa (19/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Rencananya, mereka akan mengembangkannya bersama perusahaan Korea Selatan. Dulu sih, business-to-business dengan Samsung, namun tidak tahu juga,” paparnya.
Sebagai informasi, PLTGU Jawa 1 rencananya akan memiliki kapasitas sebesar 2x800 Megawatt (MW) dengan nilai proyek sebesar US$2 miliar. Proyek yang diperkirakan beroperasi tahun 2020 itu digadang menjadi pembangkit listrik berbasis gas terbesar di Asia Tenggara, dan merupakan yang kedua di dunia yang mengintegrasikan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dengan PLTGU.
Di dalam lelang pembangkit ini, konsorsium Pertamina sebelumnya telah mengalahkan pesaing lain, yaitu konsorsium PT Adaro Energi Tbk - Sembcorp, konsorsium Mitsubishi Corporation - JERA - PT Rukun Raharja Tbk - PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), serta konsorsium PT Medco Power Generation Indonesia - Nebras Power - Korea Electric Power Corporation.