Emas dalam bentuk koin, batangan maupun perhiasan, bisa disimpan bertahun-tahun lamanya untuk dijual kembali di kemudian hari. Meski cenderung berfluktuatif, namun tren harga emas mendaki dari masa ke masa.
Menurut Perencana Keuangan Eko Endarto, investasi emas memiliki kelebihan tersendiri, yakni kenaikan nilai yang lebih besar 1 persen hingga 2 persen dibanding inflasi per tahunnya. Selain itu, emas juga bersifat global sehingga bisa diterima di manapun. Selain itu, sifatnya juga lebih likuid jika dibandingkan alternatif investasi tetap lainnya, seperti tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investasi emas memiliki keunggulan, seperti kenaikan nilai yang lebih besar 1persen-2 persen dibandingkan inflasi per tahunnya dan sifatnya likuid. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay). |
Makanya, emas kerap didapuk sebagai bantalan apabila instrumen investasi pada umumnya terpuruk, seperti saham. Ambil contoh, kasus tahun 2008 silam, di mana portofolio aset masyarakat pindah ke emas pasca krisis keuangan terjadi.
“Banyak di saat waktu krisis, orang beralih ke emas karena paling aman. Langsung, harga emas tinggi,” ujarnya, Jumat (15/9).
Lihat juga:Mempertanyakan Keamanan Investasi Bitcoin |
“Nilai perhiasan ini terletak dari sisi historisnya, seperti ini didesain oleh siapa? Siapa pengguna perhiasan sebelumnya? Sehingga, kalau mau menyimpan perhiasan, intinya tidak investasi emas, tapi investasi di barang-barang koleksi,” terang Eko.
Terlebih, investasi perhiasan emas juga dianggap mengurangi nilai emas. Sebab, pemilik perhiasan juga harus menanggung biaya pembuatan perhiasan emas itu sendiri. Sehingga, meski bisa dikumpulkan jadi harta benda, ia tidak menyarankan masyarakat menggunakan perhiasan untuk motif berinvestasi.
Lihat juga:Agar Tak 'Buntung' Pakai Kartu Kredit |
Setali tiga uang, perencana keuangan Tejasari Assad juga tidak mengajurkan masyarakat untuk memilih emas perhiasan sebagai portofolio investasi. Pasalnya, jika nanti perhiasannya dijual kembali, nilainya bisa turun jauh dibandingkan harga belinya jika memang tidak ada keistimewaannya.
"Kalau misalkan perhiasan itu hanya warisan nenek, misalnya, ya tentu saja itu akan terjual dengan murah. Apalagi, biasanya toko perhiasan bilang mereka perlu tambahan biaya lagi untuk proses peleburan dan sebagainya. Pas jual bisa saja nanti harganya malah jatuh," imbuhnya.
Meski demikian, masih perlu ada yang diwanti-wanti dari investasi logam mulia. Sebab, meski prospeknya kinclong, tetap saja investasi emas memiliki kekurangan. Tejasari menuturkan, kekurangan pertama, yaitu kenaikan nilainya sejalan dengan risikonya yang aman.
Jika sedang booming, imbal hasil reksa dana bisa sampai 20 persen hingga 30 persen. Namun, kalau emas lagi digandrungi, imbal hasilnya paling mentok di angka 10 persen.
Tejasari menyarankan, biarkan emas ditahan dulu selama beberapa waktu sebelum dijual kembali. Hal ini dilakukan agar kenaikan nilai emas bisa lebih besar dibandingkan selisih antara harga beli dan harga jualnya.
Menurut Tejasari, sebagian besar masyarakat tidak berhasil berinvestasi emas karena tidak peka dengan hitung-hitungan ini. "Jadi, memang perlu dihitung, kapan investasi emas ini capai Break Even Point (BEP). Makanya, menurut saya, investasi emas ini lebih baik sebagai back up saja," katanya.
Berinvestasi emas batang memang menggiurkan. Tapi, tak ada salahnya juga mengumpulkan perhiasan emas jika nilai estetika dan historisnya terbilang mumpuni. Apapun bentuknya, belum ada kata terlambat bagi Anda untuk memulai investasi emas. (bir)
Investasi emas memiliki keunggulan, seperti kenaikan nilai yang lebih besar 1persen-2 persen dibandingkan inflasi per tahunnya dan sifatnya likuid. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).