"Untuk menengah atas dan generasi milenial, mereka tetap punya tuh jatah untuk 'nge-mall', untuk sekedar 'nongkrong' di restoran dan kedai kopi. Tapi mereka juga 'nabung' untuk liburan," ujar Ari.
Alhasil, menurut Ari, pengeluaran untuk membeli makanan dan minuman dalam jumlah besar mereka tahan, belanja untuk pakaian dan perlengakapan rumah tangga yang sekiranya bisa bertahan lama, akhirnya ditahan juga. Hal ini demi memiliki alokasi dana yang cukup untuk 'nongkrong' dan berlibur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga: Pemulihan Daya Beli Jadi 'PR' Utama Pemerintah |
Lantas, apakah pergeseran pola konsumsi ke wisata ini bisa membuat kinerja konsumsi rumah tangga tetap baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi hingga tutup tahun?
Ari melihat, hal ini bisa. Sebab, menurutnya, wisata yang telah melekat jadi gaya hidup masyarakat masih akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan. Hal ini sejalan pula dengan semakin banyaknya titik-titik pariwisata baru yang membuat masyarakat penasaran dan ingin merasakan sendiri pengalaman itu.
"Mungkin dampaknya belum sebesar itu (ke pertumbuhan ekonomi). Tapi setidaknya ada kontribusi dari pendapatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sektor pariwisata. Belum lagi, ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar tempat wisata, mereka punya kesempatan untuk usaha," terangnya.
Sementara itu, Ekonom Samuel Aset Manajemen (SAM) Lana Soelistianingsih melihat, konsumsi wisata masyarakat belum bisa mengompensasi sumbangan konsumsi rumah tangga ke pertumbuhan ekonomi.
Alasannya, besarnya konsumsi wisata saat ini hanya berasal dari kelompok menengah ke atas. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah masih tertekan dengan pendapatannya dan biaya hidup yang bertambah.
Hal ini membuat mereka tak bisa melakukan 'berfoya-foya' untuk berlibur dan tetap membatasi konsumsi yang lagi-lagi akan berdampak pada terkontraksinya indikator konsumsi rumah tangga.
"Jadi, rasanya pertumbuhan konsumsi rumah tangga sampai akhir tahun tetap di kisaran 4,9 persen, tapi rasanya paling tinggi hanya 4,95 persen, tidak lebih," kata Lana.
Bila penyumbang utama pertumbuhan tak bergairah, Lana memproyeksi, perekonomian Tanah Air hanya finis di angka 5,05 persen sampai 5,08 persen sampai tutup tahun. Artinya, masih jauh dari target pemerintah di angka 5,2 persen. (agi)
Pertumbuhan barang konsumsi kemasan (The Nielsen Company Indonesia)
Data Pertumbuhan Food and Beverage 2017 (The Nielsen Company Indonesia)