Bank Diminta Tetap Waspadai Kredit Bermasalah Sektor Tambang

dit & Agustiyanti , CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 08:51 WIB
Bank Diminta Tetap Waspadai Kredit Bermasalah Sektor Tambang Otoritas Jasa Keuangan menilai, sektor pertambangan masih rawan dalam meningkatkan resiko kredit bermasalah (NPL) perbankan hingga tahun depan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan pada Oktober mencapai 2,96 persen, naik dari posisi bulan lalu yang tercatat 2,93 persen. Perbankan pun diminta untuk mewaspadai peningkatan NPL di sektor pertambangan.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Boedi Armanto mengungkapkan bahwa, pertambangan masih rawan dalam meningkatkan resiko kredit bermasalah perbankan hingga tahun depan. Tingkat NPL sektor pertambangan yang tinggi saat ini diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun depan.

"Kalau sekarang kan NPL yang paling tinggi itu di sektor mining atau pertambangan dan yang berkaitan dengan kelapa sawit, kan harganya masih jatuh," jelas Boedi di Jakarta, Kamis (7/12).

Kendati demikian, Boedi mengaku optimis bahwa resiko kredit di sektor pertambangan akan semakin membaik di tahun depan. Hal tersebut ia lihat dari perkembangan harga komoditas yang sudah mengalami perbaikan.

Berdasarkan data OJK, hingga September 2017, rasio NPL sektor pertambangan dan penggalian tercatat sebesar 8,12 persen. Rasio NPL tersebut naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar 6,38 persen.

Selain menghadapi tingginya NPL di sektor pertambangan, Direktur Pengawasan Bank OJK Irnal Fiscalutffi menilai, masih gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah menjadi tantangan tersendiri.

"Ini tantangan buat kita juga di sektor perbankan untuk menyerap pembiayaan - pembiayaan yang mendukung infrastruktur." ucapnya. (agi/agi)


BACA JUGA