Kenaikan Peringkat Fitch Ratings Menguntungkan Badan Usaha

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 22/12/2017 15:24 WIB
Kenaikan Peringkat Fitch Ratings Menguntungkan Badan Usaha Fitch Ratings menaikkan peringkat utang Indonesia jadi BBB dengan prospek stabil. Ini membuka peluang surat utang korporasi semakin diminati. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kenaikan peringkat utang Indonesia dari BBB- (triple B minus) menjadi BBB (triple B) oleh Fitch Ratings akan menguntungkan badan usaha. Sebab, ini berarti surat utang korporasi dalam negeri semakin diminati oleh investor.

Dalam laporannya, lembaga pemeringkat internasional itu menaikkan peringkat surat utang Indonesia dengan prospek stabil karena Indonesia dianggap cukup tahan dari guncangan eksternal. Selain itu, kebijakan pemerintah mampu menstabilkan kondisi makroekonomi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, perbaikan peringkat ini akan membuat imbal hasil dari investasi (yield) lebih murah saat surat utang dirilis. Bahkan, bisa lebih murah jika dibandingkan pinjaman dari perbankan dalam negeri.


"Adanya (perbaikan peringkat) Fitch Ratings ini menambah keyakinan investor bahwa Indonesia akan lebih aman untuk investasi ke depan," ujar Wimboh, Kamis (21/12).

Ia melihat, keyakinan investor ini akan membuat Indonesia memiliki lebih banyak sumber pendanaan untuk mendukung bisnis perusahaan, termasuk bagi perusahaan yang tengah menjalankan proyek infrastruktur dan membutuhkan pendanaan.

Hal ini sudah terlihat dari ketertarikan investor pada salah satu perusahaan dalam negeri, yaitu PT Jasa Marga (Persero) Tbk, saat menerbitkan global bond berdenominasi rupiah pada beberapa waktu lalu.

"Tidak heran waktu Jasa Marga listing (tercatat) di London Stock Exchange, yield-nya hanya 7,5 persen," imbuhnya.

Kendati begitu, Wimboh belum memberikan gambaran ketertarikan perusahaan pada pinjaman perbankan ke depan. Namun demikian, hal positif yang dilihatnya adalah sumber pendanaan menjadi kian beragam.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adinegara menilai, Indonesia mungkin diuntungkan dengan perbaikan peringkat. Hanya saja, pemerintah masih perlu melakukan beberapa hal untuk memaksimalkan perbaikan rating ini.

Pertama, pemerintah tetap perlu mengoptimalkan kinerja pos penerimaan, khususnya pajak. Hal ini sebagai bekal menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun depan.

"Selain itu, defisit harus dijaga di bawah tiga persen. Pos belanja yang berisiko meningkatkan defisit, seperti subsidi energi, bantuan sosial, dan infrastruktur harus diawasi secara ketat," kata Bhima. 

Kedua, menjaga stabilitas makroekonomi di tengah terpaan tahun politik jelang perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 2018. Pagelaran ini sedikit banyak akan berdampak pada kestabilan iklim investasi bagi dunia usaha.

Ketiga, terus menggenjot indikator daya saing, misalnya kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) dan indeks kompetitif global (Global Competitiveness Index). 

Keempat, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sebab, apabila rupiah melemah akan memicu meningkatnya beban pembayaran bunga dan cicilan pokok dalam kurs dolar Amerika Serikat (AS). (bir)