Menko Darmin: Seleksi Industri Prioritas Rampung Tahun Depan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 23/12/2017 11:10 WIB
Menko Darmin: Seleksi Industri Prioritas Rampung Tahun Depan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menargetkan proses penyeleksian sektor industri prioritas rampung pada awal 2018. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menargetkan proses penyeleksian sektor industri prioritas rampung pada awal 2018.

Disebutkan, seleksi industri prioritas itu ditentukan lantaran pemerintah ingin masuk ke sejumlah kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara lain.

Sampai saat ini, finalisasi industri prioritas masih dilakukan oleh Kemenko Perekonomian bersama Kementerian Perindustrian. Keduanya belum menetapkan industri mana saja yang masuk dalam golongan prioritas.

Namun, Darmin menargetkan, setidaknya pada awal Januari mendatang, pemerintah bisa menyelesaikannya melalui rapat koordinasi.


"Nanti tanggal 10 (Januari 2018) kami rapat lagi," ujar Darmin di kantornya, Jumat (22/12).

Ia bilang, sebenarnya daftar industri prioritas tersebut telah dibuat oleh Kementerian Perindustrian. Bahkan, sudah sangat merinci ke upaya untuk mendorong masing-masing sektor industri tersebut. Hanya saja, daftar itu masih tergolong panjang, sedangkan Darmin ingin hanya ada beberapa industri yang masuk prioritas.

Kendati begitu, ia bilang, bukan berarti pemerintah tak akan memaksimalkan pertumbuhan industri lain yang tak masuk daftar. Namun, dirinya butuh beberapa sektor yang paling prioritas untuk dijadikan pimpinan dan pertumbuhannya bisa memacu sektor industri lain.

"Daftar mereka ratusan, sama saja bohong. Tidak perlu banyak-banyak, berapa misalnya lima (industri), tidak perlu ratusan," imbuhnya.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan, salah satu fungsi penentuan industri prioritas ini lantaran pemerintah ingin masuk ke sejumlah kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara lain.

Misalnya, masuk ke kategori perjanjian kerja sama ekonomi secara komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA). Sehingga, industri mana saja yang hasil produksinya bisa masuk ke kerja sama itu ingin dimaksimalkan lagi.

"Kan kami mau masuk ke banyak CEPA. Kami harus pilih mana yang bisa jadi champion, yang bisa dongrak pertumbuhan juga. Kalau terlalu banyak, akhirnya sumber yang dimiliki pemerintah ini tidak cukup untuk menggerakkan pertumbuhannya itu," paparnya.

Kendati begitu, Harjanto memberi sinyal bahwa setidaknya industri agrobisnis dan industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA) akan masuk ke dalam daftar tersebut. Namun, kepastiannya masih harus dirapatkan kembali. (lav/lav)