Kemunculan perusahaan teknologi finansial (financial technology/Fintech) menjadi tolak ukur metamorfosa ekosistem keuangan dunia. Tak pelak, beragam investasi alternatif pun muncul. Dari berbagai jenis yang hadir, skema investasi alternatif yang paling ramai dibicarakan 'kids zaman now' ialah skema peer to peer lending (P2PL).
Layaknya biro jodoh, perusahaan Fintech P2PL mempertemukan investor selaku pemberi pinjaman (lender) dengan pelaku usaha sebagai penerima pinjaman dana (borrower). Nantinya, lender mengalirkan sejumlah dana dalam jangka waktu tertentu kepada borrower yang akan menggunakan dana untuk aktivitas usaha. Bukan cuma-cuma, investor akan memperoleh imbal hasil dari kegiatan usaha peminjam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) M Ajisatria Suleiman menyebutkan, berinvestasi pada skema P2PL memiliki keuntungan sosial dan keuntungan pribadi.
Soal risiko, skema P2PL tentu memiliki risiko gagal bayar yang tidak sedikit, karena modal diputar untuk modal usaha kecil dan menengah yang cukup berisiko. Makanya, investor perlu cerdik menerapkan strategi dalam menaruh dananya di skema alternatif baru ini.
Langkah pertama yang harus dilakukan investor ketika ingin memulai berinvestasi dalam skema P2PL ialah, mencari dan memilih perusahaan fintech yang berkualitas dan sudah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Lihat juga:Pintar Kelola Uang di Dompet Elektronik |
Tahap yang tak kalah penting, investor perlu menyiapkan strategi investasi. Dalam skema P2PL, investor disarankan membagi sejumlah dananya ke banyak kantong produk yang memiliki profil variatif. Diversifikasi diperlukan untuk mengantisipasi risiko kehilangan dana akibat gagal bayar.
"Intinya, jangan menaruh hanya di satu kantong investasi, tapi diversifikasi lebih banyak, paling tidak lima atau 10 produk, karena adanya risiko gagal bayar, jadi diversifikasi harus jadi inti memitigasi risiko," ungkapnya.
Lihat juga:Mengenal Asuransi Perjalanan Jelang Liburan |
Sebaliknya, investor dengan profil risiko utang tinggi bisa memilih beragam produk tanpa harus memperhatikan basis penjaminan. Biasanya, tingkat bunga yang diperoleh akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produk berjaminan.
"Lihat profil risikonya agresif atau konvensional, lalu sesuaikan dengan produknya," tuturnya.
Hal paling utama dalam berinvestasi ialah menyiapkan mental yang kuat untuk menghadapi risiko. Sehingga, apabila terjadi 'kecelakaan' dalam berinvestasi, investor mampu menghadapinya dengan sikap yang cemerlang. Selamat menggemukkan kantong. (bir)