Edukasi Keuangan

Membeli Properti, Antara KPR dan Tunai Keras ke Pengembang

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 13/01/2018 10:31 WIB
Membeli Properti, Antara KPR dan Tunai Keras ke Pengembang Membeli properti dengan skema KPR tentu mudah bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana. Namun, untuk berinvestasi, KPR mematok bunga yang tak murah. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Investasi di sektor properti memang tak ada matinya. Selain karena kemampuannya menjaga kestabilan uang agar tak tergerus inflasi, properti juga relatif rendah risiko dibandingkan instrumen investasi lainnya, seperti saham.

Namun, untuk mengeruk untung dari investasi properti, diperlukan berbagai strategi. Mulai dari perencanaan matang, pemilihan lokasi, fasilitas yang memadai, sampai skema pembelian properti incaran.

Perencanaan yang matang meliputi mengetahui seluk beluk pengembang (developer) yang baik. Misalnya, pengalaman dengan proyek perumahan. Kemudian, yang paling utama adalah lokasi. Seperti, letak yang strategis, dekat dengan pusat kota, memiliki akses transportasi yang memadai, dan pusat pendidikan, termasuk rumah sakit.


Selain itu, yang tidak kalah penting, yaitu menentukan cara memiliki properti idaman. Saat ini, banyak bank dan perusahaan pembiayaan (multifinance) menawarkan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Pembiayaan Pemilikan Rumah.

Program yang ditawarkan pun beragam, mulai dari bunga tetap (fix rated) selama 1-5 tahun, tenor yang relatif panjang hingga 20 tahun. Tetapi, harap diingat, pembelian melalui KPR mewajibkan setoran uang muka (down payment/DP). Besaran uang muka itu pun berbeda-beda.

Budi Raharja, perencana keuangan mengungkapkan, konsumen perlu menyiapkan dana yang cukup untuk membayar uang muka dan memiliki pencadangan tiga kali gaji untuk proses awal kepemilikan properti. Apalagi, KPR bukan cuma soal DP, tetapi juga biaya akad kredit dan administrasi lainnya.

“Setelah bayar DP, setidaknya konsumen masih punya uang sekitar tiga kali gaji untuk bayar cicilan dan kebutuhan tak terduga. Sehingga, saat ada kebutuhan mendesak, tidak mengganggu siklus cicilan KPR,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (13/1).

Berbeda dengan skema pembelian melalui tunai keras ke pengembang. Biasanya, pihak pengembang telah menentukan besaran dan tenor pembayaran. Umumnya, jumlahnya pun dibagi 6-12 kali dari harga jual properti. Sehingga, sudah dipastikan cicilan bulanan Anda sudah pasti berpuluh-puluh kali lipat dari cicilan KPR.

Cara terbaik membeli properti?

Membeli Properti, Antara KPR dan Tunai Keras ke PengembangMembeli properti dengan skema KPR tentu mudah bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana. Namun, untuk berinvestasi, KPR mematok bunga yang tak murah. (Ilustrasi/ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).

Tentunya, bergantung kesediaan dana Anda. Skema KPR memungkinkan konsumen dengan pendapatan tetap untuk mencicil. Skema ini juga relatif aman, karena kelengkapan administrasi dan surat atas properti dilakukan oleh bank penyalur kredit.

Namun, alasan utama konsumen memilih KPR, tidak lain karena dana tunainya tidak mencukupi untuk pembelian secara tunai.

Tetapi, jangan lupa, kekurangan skema ini adalah Anda harus membayar bunga KPR. Beberapa skema KPR bahkan membuat bunga dibayar di periode awal cicilan. Bunga tersebut tidaklah murah. Lalu, apabila Anda mendapatkan rezeki lebih untuk melunasi kredit lebih awal dari periode yang dijanjikan, maka ada penalti untuk itu.

Skema lainnya, yaitu tunai keras atau mencicil langsung ke pihak pengembang. Nah, ini umumnya disukai oleh konsumen kelas menengah atas. Alasannya, besaran DP tidak mengikuti ketentuan regulator. Besaran cicilan juga disesuaikan dengan kemampuan konsumen. Namun, tenornya, tentu lebih pendek.

“Risikonya juga lebih banyak. Kalau dari bank kan ada jaminan. Kalau langsung ini, penyelamatnya cuma perjanjian jual beli antar kedua pihak saja. Harus benar-benar siap dengan risikonya," jelas Budi.

Colliers International, lembaga konsultan properti menyebutkan bahwa skema beli dan cicil langsung ke pengembang sedang menjadi tren beberapa tahun terakhir, terutama untuk mereka yang membeli apartemen atau hunian bertingkat.

"Motif kebanyakan orang beli apartemen adalah investasi. Makanya, cara ini (langsung beli ke pengembang) banyak digunakan,” kata Ferry Salanto, Senior Associate Director of Research Colliers International.

Menurutnya, skema ini marak karena ada permintaan dan penawaran (supply and demand). Dari sisi permintaan, masyarakat rupanya ingin membeli properti dengan mudah, tanpa administrasi yang berbelit.

Sedangkan dari sisi penawaran, kurang bergairahnya sektor properti belakangan ini membuat pengembang putar otak memberikan tawaran yang lebih menarik kepada masyarakat, termasuk dengan kemudahan membeli dan cicil langsung ke pengembang.

"Dengan kondisi seret ini, pengembang kian kreatif dan berani, dengan menawarkan skema cicilan langsung ke mereka," tutur dia.

Ferry menilai, tren cicil langsung ke pengembang masih akan dipilih oleh masyarakat sepanjang tahun ini. Apalagi, dari sisi perbankan, tidak ada kepastian terkait tingkat suku bunga acuan perbankan. (bir)