Bappenas Ramal Penduduk Indonesia Tembus 321 Jiwa di 2045

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 14/02/2018 18:15 WIB
Bappenas Ramal Penduduk Indonesia Tembus 321 Jiwa di 2045 Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan, penduduk Indonesia di tahun itu akan semakin terkonsentrasi di perkotaan dengan angka 63,1 persen dari jumlah populasi. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan, penduduk Indonesia bisa menembus 321 juta jiwa di tahun 2045. Jumlah ini meningkat dibandingkan data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015 yang berada di angka 255,1 juta.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan, penduduk Indonesia di tahun itu akan semakin terkonsentrasi di perkotaan dengan angka 63,1 persen dari jumlah populasi. Jumlah ini meningkat tajam ketimbang tahun 2015, di mana jumlahnya mencapai 53,1 persen dari populasi.

Maka dari itu, tak heran jika perkembangan kota besar tak berhenti sampai metropolitan, melainkan hingga menjadi megapolitan. Salah satu potensi megapolitan yang paling besar adalah Jakarta-Bandung dengan jumlah populasi diperkirakan mencapai 80 juta penduduk. Nantinya, konsep metro Jakarta yang dikenal dengan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodatebek) sudah tidak relevan lagi.

"Perkembangan Jakarta ini semakin ke timur, bahkan kawasan suburb Jakarta kini sudah mencapai Cikarang. Di barat sudah mendekati Serang, jadi kawasan megapolitan yang paling obvious ini adalah Jakarta-Bandung," ungkap Bambang di Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (14/2).

Selain Jakarta, Bambang juga melihat potensi kota metropolitan baru di luar Jawa, seperti Balikpapan, Manado, Makasar, dan Ambon. Maka dari itu, ia berharap Indonesia bisa mengurangi konsentrasi penduduknya di pulau Jawa.


Berdasarkan Supas 2015, penduduk di Jawa yang mencapai lebih dari 50 persen dari populasi. Jumlah tersebut diharapkan bisa turun ke angka 47 persen di tahun 2045. Langkah ini, menurut Bambang, dirasa perlu agar tercipta pemerataan Produk Domestik Bruto (PDB).

"Kami harap paling tinggi penduduk Jawa bisa paling tinggi 55 persen, syukur-syukur bisa sampai 53 persen. Ini bisa dilakukan jika ada kebijakan dari pemerintah, tak bisa dilakukan sendirinya," ungkapnya.

Bambang juga menyebut, populasi usia tua akan semakin tinggi di tahun 2045 karena pertumbuhan penduduk mulai melambat. Hal ini tercermin dari rasio Total Fertility Rate (TFR) sebesar 2,1 atau menurun dibanding Supas 2015 yakni 2,38. Rasio itu menunjukkan bahwa jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya sebanyak 2,1 anak.


Maka dari itu, tak heran jika perbandingan usia produktif terhadap golongan usia tua (dependency ratio) akan berada di angka 52,3 persen atau naik dari angka tahun 2015 yakni 49,2 persen. Artinya, beban golongan usia produktif untuk menanggung biaya hidup golongan tua akan semakin meningkat.

Hal ini juga diperkirakan akan diiringi dengan migrasi penduduk Indonesia sebanyak 2 hingga 3 juta ke luar negeri baik untuk mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Maka dari itu, pemerintah harus membuat upaya agar masa keemasan usia produktif (bonus demografi) bisa diperpanjang dari tahun 2034.

"Masalah penduduk memang tidak jauh dari masalah tenaga kerja, di mana kuncinya adalah produktivitas dan mengurai pengangguran. Kami memperkirakan nanti angka natural unemployment ada di angka 3 hingga 4 persen dengan tingkat parispasi angkatan kerja 80 persen. Ini sudah cukup berkembang dibanding sekarang," pungkas dia. (agi/agi)