Kelangkaan Premium di Riau Diduga Jelang Pilkada

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 13/03/2018 12:55 WIB
Kelangkaan Premium di Riau Diduga Jelang Pilkada Pertamina menduga kelangkaan premium di Riau sebagai permainan oknum jelang pilkada. Menurut catatannya, salah satu calon kepala daerah memiliki SPBU. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) menduga kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Riau dikarenakan permainan oknum jelang gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

"Untuk (kelangkaan premium) di Riau mungkin politik, mau Pilkada," ujar Direktur Pemasaran Korporat dan Retail Pertamina ‎Muchamad Iskandar di sela acara Annual Pertamina Quality Award (APQA) 2018 di Kantor Pusat Pertamina, Senin (12/3).

Menurut dia, perusahaan tidak mendapatkan penugasan untuk menjual premium di wilayah Jawa, Bali, dan Madura (Jamali). Karenanya, apabila masyarakat tidak bisa mendapatkan premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah tersebut, masyarakat tidak bisa menyebutnya sebagai kelangkaan BBM.



Secara terpisah, Vice President Retail Fuel Marketing Pertamina Jumali mengungkapkan salah satu calon kepala daerah di Riau yang memiliki SPBU.

‎"Ini mau ada Pilkada. Kebetulan, salah satu calon itu memang punya SPBU. Saya tidak tahu apakah dihubungkan itu atau enggak ," tutur dia.

Jumali menyatakan tidak ada upaya perseroan untuk menahan penyaluran premium ke wilayah penugasan di luar Jamali. Hingga akhir tahun nanti, perusahaan berkomitmen menyalurkan premium sebanyak 7,5 juta kiloliter (kl).


Sebelumnya, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas (Migas) Henry Ahmad menyatakan konsumen premium di kota besar banyak yang beralih ke jenis BBM beroktan 90 atau pertalite.

Dari sisi margin, pertalite memberikan margin lebih tinggi dibandingkan BBM penugasan. Sebagai gambaran, sebut Henry, margin penjualan premium penugasan hanya berkisar Rp280 per liter. Sementara, pertalite memberikan margin sekitar Rp400 per liter.

"SPBU menjual sesuai kondisi permintaan masyarakat. Kalau di daerahnya lebih banyak permintaan premium, SPBU bisa rugi juga kalau menjual banyak pertalite, meski marginnya lebih tinggi," pungkasnya. (bir)