Jakarta, CNN Indonesia -- Saham di Asia mengalami penurunan pada Senin (24/9), dipicu
China yang meningkatkan keterangan perdagangan dengan membatalkan pembicaraan rencana pengenaan tarif dengan
Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, harga minyak melonjak setelah produsen utama menolak peningkatan produksi minyak mentah.
Dilansir dari Reuters, indeks saham AS menyentuh level bawah, sementara MSCI yang merupakan indeks terluas di saham Asia Pasifik merosot 0,6 persen, kecuali Jepang.
Indeks Hang Seng Hong Kong bahkan terpuruk hingga 1,2 persen. Sementara itu, saham Australia jatuh 0,25 persen dan Selandia Baru menyusut 0,6 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Jumat (21/9), Wall Street menutup dengan perubahan indeks Dow yang meningkat sebesar 0,32 persen, S & P 500 yang tidak alami perubahan dan Nasdaq menyusut 0,51 persen.
Sebagian besar pergerakan mata uang itu terjadi karena pasar keuangan di negara-negara utama Asia, terutama Jepang, China, dan Korea Selatan ditutup karena momentum libur.
Perang dagang yang terjadi semakin kuat dan intensif, China menambahkan US$60 miliar produk AS ke dalam daftar tarif impornya. Hal itu dipicu oleh kebijakan pengenaan tarif impor oleh Trump senilai US$200 miliar terhadap produk China yang sudah berlaku mulai hari ini, Senin (24/9).
Selain itu, China juga membatalkan pembicaraan perdagangan tingkat menengah dengan AS, serta kunjungan ke Washington oleh Wakil Perdana Menteri Liu He yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Buruknya hubungan perdagangan antara China dengan AS membuat investor menjadi benar-benar fokus mengikuti setiap kebijakan terkait dengan perang dagang ini.
Sengketa yang semakin kuat ini juga membuat pasar keuangan khawatir pertumbuhan ekonomi global akan merosot.
"Pandangan kami tetap bahwa solusi yang dinegosiasikan mungkin ada, tetapi itu tidak mungkin terjadi hingga akhir tahun ini atau awal tahun depan," kata Kepala Ekonom AMP Shane Oliver.
Hingga saat ini, kedua negara tetap mengambil kebijakan yang kontradiktif, sehingga belum ada jalan tengah dari perang dagang yang terjadi.
Di sisi lain, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan China akan memangkas biaya impor dan ekspor untuk perusahaan asing demi mempromosikan citra terbuka bisnis Tiongkok.
(lav)