KALEIDOSKOP 2018

Sengit Bisnis Uang Elektronik, Berkah Konsumen Sepanjang 2018

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 15:51 WIB
Ilustrasi GoPay. (CNN Indonesia/Harvey Darian).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pagi itu, Lia (26) yang terburu-buru untuk berangkat ke kantor lupa untuk membawa dompet. Hal ini baru ia sadari ketika sudah hampir sampai ke kantor.

Maklum, ia menggunakan jasa layanan ojek online yang menggunakan pembayaran dengan uang elektronik. Meski tak membawa dompet, ia mengaku tak lagi gelisah selama telepon pintarnya tak ikut tertinggal.

"Ada mobile banking dan saya punya akun uang elektronik salah satu bank. Jadi bisa ditransfer dan tarik tunai tanpa perlu di mesin ATM tanpa perlu kartu," ujar Lia kepada CNNIndonesia.com.


Tak hanya dapat melakukan transaksi penarikan uang, ia pun mengaku bisa melakukan berbagai transaksi pembayaran, termasuk makan siang dengan uang yang disimpannya di dompet elektronik.

"Sekarang kalau dompet ketinggalan, enggak bingung. Tapi kalau handphone yang ketinggalan pasti bingung," ungkapnya.


Perkembangan teknologi yang pesat memungkinkan alat pembayaran kini semakin beragam. Kini, transaksi pembayaran dapat dengan mudah dilakukan melalui telepon genggam, yang mungkin tak pernah terbayang 10 tahun lalu.

Berdasarkan data BI, per 21 November 2018, 33 penyelenggara uang elektronik telah mengantongi izin dari BI, baik yang berbasis server (server based) maupun yang berbasis kartu (chip based).

Sengit Bisnis Uang Elektronik, Berkah Konsumen Sepanjang 2018Daftar uang elektronik. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Selain itu, BI juga telah menerbitkan tiga izin penyelenggara dompet elektronik. Tahun lalu, BI menerbitkan izin untuk PT Nusa Satu Inti Artha untuk produk DokuPay yang telah diunduh oleh sekitar dua juta pengguna.

Kemudian, tahun ini BI menerbitkan dua izin lagi yaitu kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk untuk produk Yap yang telah diunduh oleh dan PT Espay Debit Indonesia Koe untuk produk Dana. Hingga pertengahan Desember 2018, pada Google Play Store, aplikasi Yap telah diunduh oleh lebih dari 100 ribu dan Dana lebih dari 1 juta pengguna.

Tak hanya itu, sebanyak 34 perusahaan teknologi finansial (fintech) yang terkait langsung dengan sistem pembayaran pada tahun ini juga telah mendaftar di BI. Beberapa di antaranya telah menggunakan teknologi lanjutnya untuk mempermudah transaksi pembayaran secara nontunai seperti scan QR yang ditawarkan oleh PT Dimo Pay Indonesia untuk produk Pay by QR.


Bertambahnya jumlah penyelenggara membuat nilai transaksi uang elektronik juga melesat tahun ini. Berdasarkan statistik Sistem Pembayaran BI, volume dan nilai transaksi uang elektronik sepanjang Januari-September 2018 melonjak dibanding periode yang sama tahun lalu.

Volume transaksi uang elektronik pada periode tersebut mencapai 1,99 miliar atau naik hampir 277 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yan hanya sebanyak 547 juta. Nilai transaksinya bahkan melesat mencapai lebih dari empat kali lipat dari Rp7,5 triliun menjadi Rp31,6 triliun.

Hal itu tak lepas dari meningkatnya jumlah uang elektronik yang beredar hingga September 2018 mencapai 142,47 juta, naik nyaris dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 71,78 juta.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko mengungkapkan melesatnya pembayaran nontunai tahun ini salah satunya dipicu oleh kewajiban pembayaran tol secara nontunai mulai 31 Oktober 2017. Selain itu, peningkatan transaksi juga didorong oleh transaksi uang elektronik pada sejumlah e-commerce yang makin meningkat.


Tak hanya itu, banyak pemain uang elektronik nonbank yang sudah banyak memfasilitasi transaksi parkir dan toko-toko kecil. "Tapi transaksi tol masih menjadi penunjang utama kenaikan uang elektronik," ujar Onny kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Meski banyak yang sudah mulai bergeser ke pembayaran nontunai, masih banyak masyarakat yang masih enggan. Hal itu tak lepas dari pemahaman yang masih terbatas.

Kubil (51) misalnya, pemilik warung bakso di area Kayumanis, Jakarta Timur masih enggan menerima pembayaran uang elektronik. Padahal, warungnya telah memiliki stiker pembayaran nontunai dari sejumlah penyelenggara. Kubil beralasan, transaksi pembayaran akan menjadi semakin rumit karena harus menggunakan mesin atau telepon genggam.

"Lebih enak tunai, bisa langsung saya gunakan untuk belanja tidak perlu ke ATM," ujarnya.

Ungkapan senada juga dilontarkan oleh Asri Ningsih (38), ibu rumah tangga. "Saya enggak ngerti pakai aplikasinya. Jadi tunai saja biar enggak pusing," ungkapnya. (agi)
1 dari 3