Riset UI Ungkap Mitra Gojek Bahagia Bekerja

CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 17:07 WIB
Riset UI Ungkap Mitra Gojek Bahagia Bekerja Ilustrasi driver ojek online. (CNN Indonesia/Daniela Dinda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mayoritas mitra Gojek diyakini meraih manfaat di luar keuntungan ekonomi. Hal ini mendefinisikan mereka cukup bahagia selama bermitra dengan perusahaan rintisan (startup) tersebut.

Kesimpulan itu diperoleh dari hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang dilakukan terhadap 201 mitra Gojek yang terdiri dari mitra Go-Ride, Go-Car, Go-Food, Go-Life dengan penelitian kualitatif.

Mitra tersebar di sembilan kota, yakni Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Balikpapan, Makassar, dan Palembang.


"Mitra Gojek banyak merasakan emosi positif. Tadinya bekerja karena alasan ekonomi, tapi semakin ke sini ada kesenangan lebih karena bisa membanggakan keluarga dan berperan lebih besar untuk masyarakat,"papar Peneliti LD FEB UI Bagus Takwin, Rabu (7/8).

Salah satu faktor utama yang membuat mitra Gojek merasa bahagia di luar faktor ekonomi, misalnya pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik pribadi seseorang atau keinginan sang mitra. Bagus mencontohkan seseorang yang doyan jalan-jalan tentu cocok menjadi mitra Go-Ride.

"Mitra Gojek memiliki pengalaman bahagia itu mengindikasikan ada kesesuaian yang tinggi antara pekerjaan dengan masing-masing individunya, ini mencakup keterampilannya, waktu, dan lokasi kerja," ucap Bagus.

Kemudian, sejumlah mitra Gojek juga merasa dibutuhkan dan menjadi solusi banyak orang. Bagi mitra Go-Massage misalnya, seorang penyandang tunanetra yang sebelumnya tak bekerja kini memiliki kesempatan untuk mencari nafkah dan merasa berguna untuk masyarakat.

"Jadi awalnya pas datang ke konsumen, konsumen merasa kesakitan. Tapi setelah itu senang setelah dipijit. Jadi mitranya juga memiliki emosi positif," terang dia.

Faktor kebahagiaan lainnya adalah penghargaan dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Bagus menyatakan Gojek seringkali memberikan bonus, peringkat juara, hadiah, dan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan.

"Ini membuat mitra merasa dihargai," imbuhnya.

Di samping itu, respons dari konsumen yang puas dan menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung juga berperan memberikan kebahagiaan untuk mitra Gojek. Kemudian, pemberian tips dari konsumen juga berharga bagi mitra Gojek.

Lalu, mitra Gojek juga merasa bahagia karena bisa mengatur waktu kerjanya sendiri. Dengan demikian, sang mitra memiliki waktu yang lebih fleksibel dalam bekerja dan mengurus urusan pribadinya.

"Mitra menjadi lebih berdaya dalam meningkatkan kualitas hidup, terutama dalam hal mengatur waktu bersama keluarga dan mengurus anak," jelasnya.

Faktor terakhir, yakni mitra Gojek memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak orang. Bukan hanya bertemu klien yang berbeda tiap harinya, tapi sesama mitra juga bisa membuat komunitas untuk membina relasi satu sama lain.

"Ada beberapa komunitas yang memberikan kesempatan kepada mitra untuk berbuat baik, seperti menyediakan buka puasa bersama sampai berikan donasi," ungkap Bagus.
[Gambas:Video CNN]
Kekhawatiran Mitra

Walaupun ada rasa kebahagiaan yang didapat di luar finansial, tetapi beberapa mitra khususnya Go-Ride juga mengaku khawatir dengan sikap konsumen. Masalahnya, beberapa orang suka membatalkan order, jarak tempuh yang dituju tak sesuai dengan aplikasi.

Tak hanya itu, mitra Gojek juga mengeluhkan sejumlah pesanan fiktif. Untuk fitur Go-Send misalnya, sang mitra sudah membelikan barang yang tertera pada aplikasi, tetapi setelah itu konsumen menghilang.

"Makanya ini Gojek juga harus memperhatikan kesesuaian dalam penggunaan layanan untuk menjauhkan mitra dari pengalaman tidak menyenangkan akibat tindakan curang pelanggan," papar Bagus.

Kemudian, masalah keamanan di lingkungan tertentu juga masih menjadi kendala bagi mitra Gojek. Merasa seringkali bekerja dengan rasa khawatir yang cukup tinggi.

"Tapi tombol emergency sejauh ini cukup membantu. Gojek harus perhatikan juga masalah keamanan ini, ujar Bagus.

Selanjutnya, mitra Gojek juga khawatir terhadap jumlah pendapatan yang tak menentu tiap bulannya. Sementara, mereka membutuhkan sumber pendapatan yang berkelanjutan demi menyambung hidup.

"Untuk mengatasi kekhawatiran terkait kondisi keuangan, beberapa mitra mengaku sudah mengikuti program swadaya dari Gojek," tuturnya.

Bagus juga menyebut sejumlah mitra juga khawatir dengan keselamatannya di jalan. Belum banyak yang paham bagaimana cara mengakses program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.

Gojek sendiri, tambah dia, sudah memberikan fasilitas jaminan sosial dalam bentuk kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk program jaminan kecelakaan dan kematian. Namun, belum maksimal dampaknya bagi mitra.

"Untuk itu diperlukan akses informasi jaminan sosial yang lebih mudah dan menyeluruh untuk para mitra," pungkas Bagus. (aud/lav)