Bendahara negara mengatakan pembatalan lelang dua surat utang dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai akhir tahun. Khususnya, pemenuhan pembiayaan dari penerbitan surat utang.
"Karena keseluruhan pembiayaan untuk 2019 sudah terpenuhi. Waktu itu kami sudah melakukan front loading dan estimasi defisit dari lelang sudah memenuhi, jadi kami menghentikan (penerbitan) surat utang," ujar Sri Mulyani di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (28/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, pemerintah sejatinya tengah menghadapi kekurangan dana di APBN. Sebab, penerimaan negara baru mencapai Rp1.508,9 triliun per Oktober 2019 atau Rp69,7 triliun dari target APBN 2019 sebesar Rp2.168,1 triliun. Pertumbuhan penerimaan negara tercatat hanya naik 1,2 persen.
Sementara, belanja negara sudah mencapai Rp1.798 triliun atau 73,1 persen dari target APBN Rp2.461,1 triliun. Belanja negara tumbuh 4,8 persen.
[Gambas:Video CNN]
Dari kondisi ini, keuangan negara mengalami defisit sebesar Rp289,1 triliun atau 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi itu sudah mendekati target defisit APBN sampai akhir tahun sebesar Rp296 triliun atau 1,84 persen dari PDB.
Sementara sampai akhir tahun, Sri Mulyani memperkirakan defisit anggaran akan mencapai 2,2 persen dari PDB. Kendati melebar, ia mengklaim tingkat defisit masih aman karena belum melebihi batas ketentuan mencapai 3 persen dari PDB.