Corona, Jokowi Tambah Saldo Kartu Sembako Jadi Rp200 Ribu

CNN Indonesia | Selasa, 25/02/2020 16:22 WIB
Pemerintah akan menambah tunjangan kartu sembako Rp50 ribu per bulan untuk mengantisipasi dampak virus corona ke perekonomian. Pemerintah akan menambah saldo kartu sembako untuk enam bulan ke depan. (CNN Indonesia/Yuli Yanna Fauzie).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menambah tunjangan Kartu Sembako dari Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu per bulan untuk mengantisipasi dampak wabah virus corona ke perekonomian. Penambahan itu menghabiskan anggaran Rp4,56 triliun untuk 6 bulan ke depan.

"15,2 juta kelompok penerima manfaat kartu sembako akan ditambah uang dalam bentuk tunjangan kartu sembakonya sebesar Rp50 ribu (per bulan)," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers, Selasa (25/2).

Sri Mulyani mengungkapkan penerima tambahan tersebut adalah kelompok masyarakat dengan pendapatan 20-30 persen di bawah. Dalam hal ini, sebagian besar pendapatannya langsung digunakan untuk konsumsi.


Ia berharap penambahan tunjangan kartu sembako dapat mendorong konsumsi rumah tangga yang akan memberikan efek berganda (multiplier effect) ke perekonomian.

"Penambahan (tunjangan) dimulai Maret," ujarnya.

Terkait anggaran, Sri Mulyani menyatakan pemerintah sudah mengalokasikan pos cadangan untuk mengakomodasi kebutuhan tidak terduga, seperti bencana alam maupun wabah penyakit.

Sebagai informasi, Kartu Sembako merupakan salah satu upaya pemerintah melindungi 40 persen lapisan masyarakat terbawah. Melalui program ini, masyarakat dapat membeli beragam bahan pangan sehari-hari seperti beras. Total alokasi APBN 2020 untuk program Kartu Sembako mencapai Rp25,7 triliun.

Virus corona mewabah di beberapa penjuru dunia. Sampai dengan Selasa (25/2) virus telah membunuh 2.704 orang dan menginfeksi lebih dari 80 ribu orang.

Tak hanya itu, virus juga telah memberikan dampak pada ekonomi. Bagi Indonesia, Sri Mulyani beberapa waktu lalu menyebut virus sudah 'menginfeksi' ekonomi dalam negeri.

Infeksi mulai terasa Januari 2020. 'Infeksi' terlihat dari perlambatan penerimaan perpajakan hingga kepabeanan dan cukai pada awal tahun ini. Sri Mulyani memaparkan penerimaan perpajakan pada Januari 2020 sebesar Rp84,7 triliun.

Realisasi itu turun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang masih bisa mencapai Rp90 triliun.

Penerimaan perpajakan itu baru setara 4,5 persen dari target sebesar Rp1.865,7 triliun yang ditetapkan pemerintah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Ia menyatakan penerimaan pajak dari sektor perdagangan sebesar Rp22,18 triliun atau hanya tumbuh tipis sebesar 2,6 persen.

Sementara, sektor pertambangan minus hingga 27,3 persen serta transportasi dan pergudangan minus 5,6 persen. Sri Mulyani bilang penerimaan pajak dari sektor pertambangan sebesar Rp7,18 triliun, sedangkan transportasi dan pergudangan Rp4,88 triliun.

"Perlambatan sektor perdagangan harus diwaspadai. Ini mungkin karena Virus Corona terutama paruh kedua Januari 2020. Sebelumnya tumbuh 8,4 persen, sekarang justru hanya 2,6 persen," kata Sri Mulyani, Rabu (19/2).

Dari sisi jenis penerimaan pajak, PPh 22 impor turun 7,43 persen menjadi Rp4,3 triliun. Kemudian, penerimaan PPh badan merosot 29,34 persen menjadi Rp6,92 triliun, PPh 26 turun 18,66 persen menjadi Rp3,6 triliun, dan PPN impor turun 11,65 persen menjadi Rp12,3 triliun.

[Gambas:Video CNN]

(aud/sfr)