ANALISIS

Ancaman Resesi karena Corona Makin Hantui Indonesia

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 19/03/2020 09:06 WIB
Indonesia diramal mengalami resesi karena konsumsi domestik yang menjadi penopang utama ekonomi tertekan hebat oleh virus corona. Wabah virus corona yang kian meluas diramal menekan ekonomi Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyebaran virus corona semakin meluas di Indonesia. Lihat saja, jumlah pasien yang positif terinfeksi wabah itu sudah tembus 227 orang dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 19 orang hingga Rabu (18/3).

Kekhawatiran pun makin menyelimuti perasaan masyarakat. Tagar #dirumahaja di berbagai media sosial bermunculan sejak awal pekan ini.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mengimbau warga untuk bekerja dan belajar dari rumah demi meminimalisir penyebaran virus corona. Tak ayal, banyak masyarakat yang mengisolasi diri di rumah masing-masing karena masalah tersebut.


Meskipun demikian, tidak tahu sampai kapan virus corona terus menyebar di Indonesia. Yang jelas, pemerintah belum bisa menekan penyebaran virus. Semakin hari, jumlah jumlah pasien positif kian bertambah.

Jika terus begini, aktivitas ekonmomi otomatis terganggu. Mereka, salah satunya pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) banyak menderita karena situasi ini.

Pemandangan keramaian kedai makan yang berada di dekat gedung perkantoran saat jam makan siang tak lagi terlihat. Belum lagi pusat perbelanjaan menjadi tempat yang juga dihindari oleh masyarakat. Padahal, banyak pelaku UMKM hingga ritel besar di tempat itu.

Pedagang kaki lima juga akan ikut merasakan 'pahitnya' situasi ini. Omzet mereka berpotensi turun drastis, sehingga mengancam daya beli masyarakat.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengatakan ancaman krisis ekonomi di Indonesia bukan lagi isapan jempol belaka jika pemerintah tak mampu menahan penyebaran virus corona sampai kuartal III 2020. Ekonomi domestik diramal minus pada akhir 2020 atau awal tahun depan.

[Gambas:Video CNN]
Masalahnya, penurunan daya beli masyarakat akan membuat tingkat konsumsi rumah tangga melorot. Padahal, konsumsi rumah tangga saat ini masih menjadi komponen pembentuk produk domestik bruto (PDB) terbesar.

Artinya, ekonomi Indonesia amat bergantung dengan konsumsi masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 56,62 persen terhadap ekonomi Indonesia sepanjang 2019. Diikuti dengan komponen investasi serta ekspor dan impor.

"Ini mempercepat menuju krisis. Tiga triwulan tidak teratasi bisa krisis. Ini skenario terburuk tapi ya," ucap Eko kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/3).

Menurut dia, Indonesia sendiri saat ini sebenarnya sudah bisa disebut resesi. Pasalnya, ekonomi dalam negeri sudah melambat sejak tahun lalu.

"Resesi sebenarnya banyak pengertiannya. Kalau kami melihat resesi adalah ketika ekonomi melambat dalam dua kuartal berturut-turut. Tapi memang ada yang mengartikan ekonomi minus baru resesi," ucap Eko.

BPS mencatat perlambatan ekonomi Indonesia terjadi sejak kuartal I 2019. Rinciannya, pertumbuhan kuartal I 2019 tercatat sebesar 5,07 persen, kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen, kuartal III 2019 sebesar 5,02 persen, dan kuartal IV 2019 hanya 4,97 persen.

"Makanya kami ingatkan pemerintah, kami sudah sering berikan alarm ke pemerintah kalau Indonesia sudah diujung resesi," kata Eko.

Eko melihat situasi ekonomi akan lebih parah ketimbang krisis 2008-2009 lalu. Pada 2009, pertumbuhan ekonomi masih bisa dijaga di level 4,5 persen, sedangkan virus corona berpotensi membuat ekonomi tumbuh di bawah 4,5 persen pada 2020.

"Virus corona yang dihadapi tahun ini tekanannya lebih besar daripada krisis global. Saat krisis 2009 hanya menyerang sektor keuangan, kalau virus corona bisa semua aspek," jelas Eko.

Dia bilang kegiatan ekonomi yang terhenti bukan hanya di sektor kelas menengah bawah, tapi juga industri besar seperti manufaktur. Kalau aktivitas operasional perusahaan terhenti, maka omzet akan turun bahkan minus.

Pembayaran gaji karyawan awalnya akan tersendat. Selanjutnya, perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) jika keuangan tak bisa diselamatkan.

"PHK dilakukan kan membuat tingkat pengangguran bertambah. Ini jelas lagi-lagi mempengaruhi daya beli masyarakat," terang Eko.

Maka itu, Eko menyarankan pemerintah agar fokus pada penanganan virus corona terlebih dahulu ketimbang memberikan banyak insentif ke berbagai sektor usaha. Masalahnya, mau berapa pun insentif fiskal yang digelontorkan, tak akan berpengaruh kalau jumlah kasus virus corona semakin membludak.

"Penyelamatan di sektor kesehatan akan memberikan kepercayaan lebih untuk masyarakat dan ekonomi," imbuh Eko.

Gambarannya, jika jumlah orang yang terinfeksi virus corona ke depannya semakin turun, maka kekhawatiran masyarakat juga menyusut. Dengan demikian, masyarakat mulai berani keluar rumah.

Pusat perbelanjaan akan ramai. Karyawan kembali bekerja di kantor, perusahaan beroperasi normal, dan kedai-kedai atau warung makan di pinggir jalan juga kembali ramai.

"Nah setelah mulai kembali normal baru pemerintah menggalakkan lagi insentif, itu baru berpengaruh. Kalau sekarang mau bagaimana pun insentif diberikan ya kalau orang khawatir tidak pengaruh," jelas Eko.

Ekonomi Belum Minus Tahun Ini

Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy masih optimistis ekonomi domestik tetap tumbuh tahun ini. Hanya saja, pertumbuhannya melambat.

"Komponen PDB kan tidak hanya dari konsumsi dalam negeri, tapi juga ada investasi, ekspor dan impor, lalu belanja pemerintah," ucap Yusuf.

Kalau konsumsi rumah tangga loyo, maka yang bisa diandalkan adalah belanja pemerintah. Indikator itu, kata Yusuf, setidaknya bisa menjadi penopang sementara untuk ekonomi.

"Pemerintah bisa lebih gencar lagi untuk belanja. Itu bisa membantu sehingga ekonomi tidak minus," ujar Yusuf.

Kendati demikian, Yusuf tak menutup mata situasi ekonomi akan semakin parah kalau pemerintah tak mampu meredam penyebaran virus corona dalam satu tahun ini. Persoalannya, masyarakat akan semakin menahan belanja jika jumlah pasien positif virus corona melonjak. Ditambah investasi berpotensi merosot dan ekspor-impor memburuk.

"Menuju resesi ada, mengarah ke sana. Tapi kalau sekarang (tahun ini) belum akan resesi," kata Yusuf.

Yusuf sendiri mengartikan resesi sebagai kondisi di mana ekonomi negara sudah minus dalam dua kuartal berturut-turut. Hal ini berbeda dengan pendapat Eko yang menilai suatu negara sudah bisa disebut resesi apabila ekonominya melambat dalam dua kuartal berturut-turut.

Ia menambahkan pemerintah sebenarnya memiliki banyak cara agar ekonomi Indonesia tetap terjaga, seperti menambah penyaluran bantuan sosial (bansos). Selama ini, bansos hanya diberikan kepada mereka yang disebut kaum miskin.

"Ini coba dinaikkan definisi bansos, jadi bisa diberikan ke kelas menengah juga. Jadi pekerja informal UMKM bisa menerima juga," jelas Yusuf.

Sebab, pelaku usaha UMKM juga akan terdampak dari virus corona. Hanya saja, mereka tak bisa disebut kaum miskin, tapi juga bukan orang kaya. Jadi, kelompok itu tetap akan 'sakit' dengan penyebaran virus corona jika tak ada bantuan dari pemerintah.

"Begitu juga driver ojek online (ojol). Pergerakannya kan mungkin juga terganggu, konsumen menurun. Ini juga harus diperhatikan pemerintah dengan memberikan bantuan langsung," pungkas Yusuf.

(agt)