Efek Corona, Pengguna Aplikasi Belanja Naik Empat Kali Lipat

CNN Indonesia | Selasa, 05/05/2020 17:14 WIB
Ilustrasi online shop menyambut harbolnas 12.12, Jakarta, Senin, 9 Desember 2019. CNNIndonesia/Safir Makki Penggunaan aplikasi belanja meningkat 300 persen di tengah corona. llustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Riset perusahaan data dan kecerdasan buatan ADA menunjukkan penggunaan aplikasi belanja meningkat 300 persen atau empat kali lipat di tengah pembatasan sosial (social distancing) untuk meneka pandemi virus corona.

Aplikasi belanja yang digunakan merupakan aplikasi yang mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku sejak pertengahan Maret di Indonesia, secara otomatis memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari masyarakat.


Berdasarkan riset tersebut, pada akhir Februari 2020 hingga minggu ketiga Maret, aktivitas di kawasan pusat bisnis Jakarta merosot 53 persen.

Perubahan perilaku ini juga berakibat pada jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan dan restoran cepat saji. ADA menemukan bahwa sejak 15 Maret, kunjungan ke sejumlah mall di Jakarta menurun hingga 50 persen dibandingkan awal 2020.

Managing Director ADA Indonesia Kirill Mankovski menjelaskan penerapan langkah-langkah social distancing dan gerakan sosial tidak membuat hidup berhenti. Walaupun aktivitas di luar rumah berkurang.

"Banyak konsumen telah beradaptasi dengan cepat dan terus melakukan apa yang telah mereka lakukan, tetapi dengan cara digital. Misalnya bekerja, belajar, melakukan olahraga dan latihan, dan sebagainya," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5).

Perilaku tersebut turut memengaruhi jumlah kunjungan orang ke pusat kebugaran yang berada di dalam mall. Banyak individu yang memutuskan untuk melakukan aktivitas kebugaran di rumah, dengan mengandalkan aplikasi kesehatan dan kebugaran. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga fisik dan gaya hidup sehat sembari menerapkan social distancing.

Di sisi lain, ADA mencatat peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas, yang naik lebih dari 150 persen pada pertengahan Maret dengan screen record dan aplikasi anti-virus sebagai yang paling banyak digunakan. Beberapa aplikasi produktivitas lain yang digemari oleh pengguna adalah aplikasi yang dapat menggantikan pertemuan fisik dan mempertahankan interaksi.

Selain itu, bagi sebagian besar pekerja profesional Indonesia, yang kini telah menjadi working-from-home professionals, cara bekerja dan berkoordinasi dari rumah masing-masing terasa sama seperti bekerja dalam keadaan normal.

Mereka terus melakukan pekerjaan, komunikasi dan pertemuan seperti biasa. Hanya saja kali ini semuanya dilakukan secara jarak jauh, dengan bantuan aplikasi.

Temuan data scientists ADA ini menyebutkan bahwa perubahan drastis pada rutinitas harian masyarakat menghasilkan perilaku konsumen baru yang disebut sebagai Crisis Persona.

"Melalui analisis penggunaan beberapa aplikasi, serta perubahan gerakan fisik. Ada beberapa yang telah secara dramatis meningkatkan penggunaan aplikasi keuangan mereka. Ada pula juga beberapa yang terus bepergian ke tempat kerja dan tidak mengubah perilaku online-nya karena tidak semua bisnis berhenti beroperasi, terutama industri-industri vital," pungkas Kirill.

[Gambas:Video CNN]


(age/sfr)