Syarat DKI Jakarta Bisa Longgarkan PSBB di Tengah Corona

CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2020 21:12 WIB
Sejumlah ruas jalan di Jakarta Selatan mulai mulai dipadati kendaraan menyusul rencana pemerintah untuk berdamai dengan Corona. Pemerintah memiliki kriteria untuk daerah yang dapat melonggarkan PSBB. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Thohirin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengungkapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi DKI Jakarta di tengah pandemi virus corona atau covid-19 dapat dilonggarkan bila tingkat bilangan reproduksi dasar (basic reproduction number/R0) rendah.

Suharso menjelaskan tingkat bilangan reproduksi dasar merupakan kadar yang mengukur potensi penyebaran suatu virus di sebuah populasi. Tingkatan ini menunjukkan rata-rata jumlah individu yang mungkin terinfeksi secara langsung dari seorang penderita yang terjangkit virus.

Menurut indikator ini, bila tingkat bilangan reproduksi berada di bawah 1 berarti aman karena mengartikan satu penderita virus memiliki potensi penularan kurang dari satu orang. Sebaliknya, bila angkanya lebih dari 1, misalnya 2 atau 3, maka artinya seorang penderita virus bisa menularkan penyakit ke dua atau tiga orang sekaligus dalam satu waktu.


Saat ini, sambungnya, tingkat bilangan reproduksi DKI Jakarta tercatat sudah mendekati 1. Jakarta pun menjadi salah satu provinsi di Indonesia dengan tingkat bilangan reproduksi yang rendah.

"Soal Jakarta itu, sekali lagi memang sekarang angka sudah dekati 1 tapi syarat WHO setidaknya di bawah 1 itu selama dua minggu. Kalau dia bisa pelihara di bawah 1 itu bisa mulai lakukan pelonggaran (PSBB)," ungkap Suharso dalam konferensi pers virtual, Rabu (20/5).

Sebaliknya, bila tingkat bilangan reproduksi DKI Jakarta justru membengkak ke atas 1 atau tingkat di bawah 1 tidak bisa dijaga dalam 14 hari, maka pelonggaran PSBB tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. PSBB justru masih perlu dilakukan untuk menekan pandemi virus corona di ibu kota.

Selanjutnya, Suharso menyatakan ada beberapa daerah di Indonesia yang juga memiliki tingkat bilangan reproduksi virus seperti DKI Jakarta, misalnya Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Jawa Barat, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepulauan Riau, Banten, dan Gorontalo.

Sementara daerah yang tingkat bilangan reproduksinya cukup tinggi adalah Maluku, Sulawesi Utara, dan Lampung. Rencananya, Bappenas akan membuat sebuah situs untuk merangkum perkembangan tingkat bilangan reproduksi virus dari berbagai daerah di Tanah Air.

Di sisi lain, ia mencatat tingkat pengujian virus di Indonesia sekitar 3.462 tes per 1 juta populasi penduduk. Tingkat tes virus di Indonesia relatif sama dengan Brazil.

Bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia, tingkat tes Indonesia lebih tinggi dari India 1.344 tes per 1 juta, Filipina 2.238 tes per 1 juta, dan Vietnam 2.828 tes per 1 juta. Namun, tertinggal dari Malaysia 14.304 tes per 1 juta dan Thailand 4.099 tes per 1 juta.

Sedangkan secara nasional, tingkat bilangan reproduksi virus di Indonesia sebesar 2,5.Artinya satu orang bisa menularkan virus ke dua atau tiga orang.

Biia dibandingkan dengan penyakit lain, kata Suharso, virus corona yang melanda berbagai negara di dunia memiliki tingkat bilangan reproduksi sebesar 1,9-5,7. Artinya, virus corona dari satu penderita berpotensi menular ke dua sampai enam orang.

[Gambas:Video CNN]

Hal ini menandakan virus corona cukup rentan karena lebih tinggi dari flu Spanyol yang penyebarannya juga pernah menggemparkan dunia, yaitu 1,4-2,8. Namun, virus corona tidak lebih tinggi dari campak yang mencapai 12-18.

Atas kondisi ini, Suharso mengatakan masyarakat Indonesia kemungkinan harus memasuki tahap hidup bersama virus corona. Sebab, pandemi corona diperkirakan WHO tidak akan benar-benar hilang dari muka bumi.

"Tidak ada pilihan kecuali kita harus hidup bersama Covid-19, tapi bagaimana dan kondisinya seperti apa? Ketentuannya merujuk pada WHO, jadi WHO berikan beberapa indikator yang diminta untuk dipatuhi semua negara di dunia dalam rangka sesuaikan kehidupan new normal selama kita blm menemukan vaksin," pungkasnya.

(uli/sfr)