Jumlah Debitur Berisiko Gagal Bayar Kredit Naik di Era Corona

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 20:07 WIB
Pefindo menyebut jumlah debitur terancam gagal bayar naik, dengan risiko tinggi sebesar 45,5 persen atau 92 juta debitur. Pefindo menyebut jumlah debitur terancam gagal bayar naik, dengan risiko tinggi sebesar 45,5 persen atau 92 juta debitur. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pefindo Biro Kredit menyebut jumlah debitur risiko tinggi dan sangat tinggi atau gagal bayar kredit masih meningkat di tengah pandemi covid-19. Sebaliknya, debitur risiko rendah dan sangat rendah cenderung turun.

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu mengatakan pada Mei 2020 jumlah debitur risiko tinggi dan sangat tinggi sebesar 45,5 persen dari total debitur dalam data Pefindo, yakni 92 juta debitur.

Detailnya, 21,7 persen debitur risiko tinggi dan 23,8 persen debitur risiko rendah.


Dibandingkan akhir tahun lalu, jumlah debitur risiko tinggi dan sangat tinggi sebesar 41,2 persen.

Rinciannya, debitur risiko tinggi 12,2 persen dan risiko sangat tinggi 29 persen.

"Kalau kami lihat, terjadi peningkatan debitur risiko tinggi dan sangat dari periode Desember 2019 ke Mei 2020, dan penurunan debitur risiko sedang, rendah, dan sangat rendah," ujarnya, Selasa (4/8).

Berdasarkan pantauan Pefindo Biro Kredit, kenaikan debitur risiko tinggi dan sangat tinggi mulai tampak pada Maret, yaitu 42,4 persen. Detailnya, debitur risiko tinggi 22 persen dan risiko sangat tinggi 20,4 persen.

Angkanya kembali naik pada April, yakni 43,6 persen, meliputi debitur risiko tinggi 22,4 persen persen dan risiko sangat tinggi 21,2 persen. Kemudian, kenaikan ini masih berlanjut hingga Mei.

"Ini terlihat bahwa pandemi covid-19 berpengaruh pada perilaku dari debitur Indonesia, mungkin mereka mengalami kendala dalam pembayaran dan juga kemampuan bayar turun dampak Covid," paparnya.

Jika dibedah per lembaga, ia mengatakan sebaran debitur risiko tinggi dan sangat tinggi paling besar terdapat pada perusahaan pembiayaan (multifinance), yaitu 55,1 persen pada Mei.

Detailnya, debitur risiko tinggi 25,7 persen dan risiko sangat tinggi 29,4 persen.

Sementara itu pada bank umum dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar 32,7 persen. Sedangkan, pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebanyak 45,2 persen.

"Mungkin saja banyak debitur di multifinance yang mengalami kendala dan kesulitan akibat covid-19 karena penurunan pendapatan dan sebagainya, sehingga profil risiko tinggi dan sangat tinggi naik  dibandingkan bank umum, BPD, dan BPR," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)