LPS Sebut Lapkeu Tak Jamin Masa Depan Bank Tanpa Fraud

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 07:34 WIB
LPS menyebut laporan keuangan bank tidak menjadi jaminan masa depan tanpa fraud. Namun, lapkeu bisa menggambarkan masa lalu bank. LPS menyebut laporan keuangan bank tidak menjadi jaminan masa depan tanpa fraud. Namun, lapkeu bisa menggambarkan masa lalu bank. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengklaim laporan keuangan tidak bisa menjadi patokan nasib bank di masa depan. Laporan keuangan yang positif juga tak jaminan bahwa bank bersih dari tindakan penipuan (fraud).

"Hasil riset saya adalah laporan keuangan sulit untuk menjadi alat prediksi karena hanya menggambarkan masa lalu," ujar Direktur Eksekutif Klaim dan Restitusi Bank LPS Suwandi dalam video conference, Selasa (4/8).

Ia mengklaim banyak perbankan yang gagal karena tindakan fraud, khususnya di industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR).


Menurut Suwandi, ada laporan keuangan andal dan tidak andal. Untuk laporan yang andal, indikasi fraud bisa dilihat melalui rasio-rasio keuangan yang tidak masuk akal.

Namun, tak bisa menjadi bahan untuk memproyeksi tindakan fraud pada waktu mendatang.

"Kalau laporan keuangan andal apakah bisa mendeteksi fraud? Kalau yang sudah terjadi ya bisa dengan rasio-rasio yang tidak masuk akal. Tapi sulilt untuk mendeteksi terjadi fraud ke depannya. Laporan keuangan hanya menggambarkan masa lalu, tapi sulit menggambarkan masa depan," papar Suwandi.

Ia menyatakan hampir 65 persen pencatatan aset perbankan yang ada di laporan keuangan wajib dikoreksi setelah dicek oleh LPS. Artinya, cuma 35 persen perusahaan yang pencatatannya memenuhi standar.

"Setelah bank diarahkan ke LPS, 65 persen dilakukan koreksi. Jadi bayangkan aset-aset yang dimiliki bank itu 65 persen dikoreksi," tutur Suwandi.

Sebagai informasi, LPS telah melikuidasi atau menutup 103 bank sejak September 2005 hingga saat ini. Bank yang dilikuidasi itu terdiri dari satu bank umum dan 102 BPR.

LPS mencatat terdapat 1.810 BPR per Mei 2020. Namun, setiap dua bulan sekali selalu ada BPR yang dilikuidasi dan penambahan BPR baru yang bermasalah.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)