Daftar Bisnis yang Sempat Datangkan Untung Besar Lalu Redup

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 10:17 WIB
Sejumlah bisnis pernah memberikan untung besar pada pelaku usahanya, tapi kemudian beberapa di antaranya redup dan dan tak punya nilai. Berikut rinciannya. Sejumlah bisnis pernah mendatangkan untung besar bagi pelakunya kini beberapa di antaranya redup. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti).
Jakarta, CNN Indonesia --

Beberapa jenis usaha sempat naik daun di tengah pandemi covid-19. Namun sebagaimana lazimnya bisnis, tak semuanya bisa bertahan dan terus-menerus untung.

Beberapa di antaranya gagal karena tak bisa mengembangkan produk dan beradaptasi mengikuti tren konsumsi masyarakat. Sementara lainnya tetap bertahan karena belum adanya tren baru dan bisa beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.

Hal ini tak hanya terjadi di masa pandemi melainkan juga pada tahun-tahun sebelumnya dan mungkin yang akan datang. Berikut beberapa jenis usaha yang sempat digandrungi publik kemudian redup;


1. Masker dan hand sanitizer

Seperti diketahui, pandemi covid-19 sempat membuat harga masker dan hand sanitizer melonjak drastis. Hal ini tak hanya disebabkan terbatasnya pasokan dua produk tersebut melainkan juga perliaku penimbunan yang dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab.

Melihat tingginya kebutuhan, sebagian pelaku industri memutar haluan bisnis ke produksi masker dan hand sanitizer demi meraup cuan. Industri tekstil yang biasa memproduksi pakaian mulai beralih memproduksi masker.

Begitu pula dengan industri lainnya seperti cat yang turut merambah ke bisnis hand sanitizer.

[Gambas:Video CNN]

2. Es Kepal Cokelat

Tak bisa dipungkiri, bisnis makanan dan minuman memang paling cepat mengalami perubahan tren. Salah satu yang sempat viral dan membawa cuan bagi pebisnisnya adalah es kepal cokelat.

Karakteristik masyarakat Indonesia yang doyan 'nyemil' hingga tren sosial media menjadi faktor keuntungan yang tinggi pada bisnis ini. Namun tren minuman ini ternyata tak bisa bertahan cukup lama. Tak sampai setahun, permintaan masyarakat menurun dan bisnis ini dianggap tak menggiurkan lagi.

3. Tanaman Anthurium

Tanaman yang masuk dalam keluarga Araceae ini memiliki daun indah dan sekitar seribu jenis. Beberapa di antaranya yang paling digemari adalah anthurium Jenmanii, Gelombang Cinta, dan Hookeri.

Beberapa orang menganggap bahwa tanaman ini sangat mewah dan eksklusif sehingga rela merogoh kocek puluhan juta untuk mengoleksinya.

Harga tertinggi untuk tanaman anthurium kala itu mencapai Rp70 juta. Meski demikian belakangan ini, tanaman tersebut bisa diperoleh dengan harga Rp10 ribu-20 ribu.

4. Sepeda

Selama pandemi Covid-19 sepeda tiba-tiba kembali digandrungi masyarakat. Sebelumnya bisnis ini sempat populer pada tahun 2011-2014 dengan maraknya penggunaan sepeda jenis fixie serta sepeda lipat di jalan-jalan.

Namun setelahnya tren bersepeda kembali redup. Sepeda baru mendapatkan momentum kebangkitannya saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

Saking digandrunginya, Badan Pusat Statistik mencatat impor sepeda meningkat 24,8 persen year on year (yoy) menjadi US$39 juta pada Semester I 2020.

5. Gelang Power Balance

Meski tak terbukti manfaat serta khasiatnya, barang ini sempat tren dan digunakan banyak orang pada kurun 2010-2012. Awalnya, gelang ini dipakai oleh para selebriti dan atlet di berbagai negara untuk meningkatkan kemampuannya.

Belakangan gelang ini dipercaya membuat pemakainya tidak mudah jatuh lantaran telah dimasukkannya teknologi frekuensi 7,83Mhz ke dalam sebuah hologram pada gelang tersebut.

Meski demikian berdasarkan keterangan Australian Competition and Consumer Commission (ACCC) khasiat gelang power balance adalah palsu dan tren gelang ini pun meredup pada kedip 2011.

(hrf/agt)