Teten Terapkan Model Bisnis Koperasi Pangan bak Korporasi

Antara, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 10:58 WIB
Menkop Teten menilai model bisnis baru dapat meningkatkan daya saing koperasi pangan dan membantu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Menkop Teten menilai model bisnis baru dapat meningkatkan daya saing koperasi pangan dan membantu mewujudkan ketahanan pangan nasional. (CNN Indonesia/ Aria Ananda).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyiapkan model bisnis bagi koperasi pangan untuk meningkatkan skala usahanya seperti korporasi.

"Model bisnis ini diharapkan bisa diadopsi dan direplikasikan oleh koperasi-koperasi pangan di Indonesia," kata Teten seperti dikutip dari Antara, Kamis (1/10.

Menurut Teten, model bisnis itu dapat menambah daya saing koperasi sekaligus guna mewujudkan ketahanan pangan nasional.


Pada tahap awal, model bisnis itu diterapkan di Koperasi Perjuangan Usaha Tani, di Jombang, Jawa Timur, yang merupakan transformasi dari Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Sugihwaras, Jombang, Jatim.

Langkah itu sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang ingin agar kelembagaan koperasi diperkuat, salah satunya untuk koperasi pangan.

"Koperasi (Koperasi Perjuangan Usaha Tani) ini sekarang mengelola 200 hektare lahan dengan 100 anggota, ini sudah cukup luas, walaupun bisa dikembangkan hingga 1000 hektare. Karena untuk membangun kelembagaan usaha koperasi ini agar semakin kuat, idealnya mencapai 1000 hektare," kata Teten.

Sebagai sumber pembiayaan model bisnis, Teten menyediakan dana bergulir melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM. Dana tersebut dapat digunakan untuk pengembangan usaha, modernisasi, dan perluasan usahanya.

"Konsep kami ini korporatisasi, nanti petani menjual produk ke koperasi, koperasi ini kemudian mengolah jadi beras. Lalu urusan ke pasar biarkan koperasi yang menangani, karena umumnya market (pasar) itu bayarnya mundur sehingga petani tidak mungkin bisa karena keterbatasan modal," ucapnya.

Dengan model bisnis tersebut, koperasi dapat melindungi petani dari permainan harga yang tidak wajar. Oleh karenanya, pembiayaan diarahkan untuk membantu penyerapan produksi petani dan membantu pemberian modal petani, serta memperkuat investasi untuk pengembangan mesin penggilingan padi modern (rice milling unit/RMU).

Model bisnis serupa sebenarnya telah diterapkan di sejumlah negara seperti Belanda, Selandia Baru, dan Australia. Dengan model tersebut, seluruh anggota dapat menikmati semua keuntungan usaha tani.

[Gambas:Video CNN]

Lebih lanjut, Teten juga mengarahkan koperasi untuk mengembangkan digitalisasi. Harapannya, ketika skala bisnis koperasi semakin besar, koperasi mampu bersaing dengan korporasi.

"Yang paling bagus itu jika koperasi juga memiliki offtaker dan kredit koperasi dijamin Jamkrida. Dengan begitu, koperasi akan sehat, efisien dan ada offtaker, pasti lembaga pembiayaan berebut menyalurkan biaya," ucapnya.

(sfr/agt)