Pertumbuhan Kredit Bank Turun ke Titik Terendah 2020

CNN Indonesia | Selasa, 13/10/2020 18:17 WIB
BI menyatakan penyaluran kredit tumbuh 0,12 persen pada September. Pertumbuhan itu merupakan yang terendah pada 2020 ini. Penyaluran kredit hanya tumbuh 0,12 persen pada September 2020. Itu merupakan yang terendah sepanjang tahun ini. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mengumumkan pertumbuhan kredit bank hanya sebesar 0,12 persen secara bulanan pada September 2020. Sebaliknya, laju Dana Pihak Ketiga (DPK) melejit ke 12,88 persen pada bulan yang sama.

Gubernur BI Perry Warjiyo mencatat pertumbuhan kredit bank terus melambat dari bulan ke bulan. Pada September kemarin merupakan titik terendah laju kredit bank tahun ini. Sebelumnya, pertumbuhan kredit berada di kisaran 1,04 persen pada Agustus 2020.

"Fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih lemah akibat pertumbuhan kredit yang terbatas sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi covid-19," ungkap Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI periode Oktober 2020 secara virtual, Selasa (13/10).


Perry mengatakan faktor utama pelemahan terjadi karena permintaan kredit dari masyarakat dan dunia usaha belum pulih seperti kondisi sebelum pandemi. Hal ini tak lepas dari pengaruh lesunya kondisi ekonomi karena pembatasan mobilitas, aktivitas masyarakat dan bisnis demi menekan penyebaran corona.

Selain itu, pelemahan juga dipicu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta jilid II yang sempat diterapkan pada 14 September sampai 10 Oktober lalu.

"Ekonomi belum tumbuh secara positif, tentu saja itu mempengaruhi pertumbuhan permintaan dari kredit dari dunia usaha," jelasnya.

Selain itu, penurunan pertumbuhan kredit juga dipicu kehati-hatian sikap bank dalam menjaga risiko peningkatan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). Pasalnya, kondisi ekonomi yang tengah tertekan corona membuat pendapatan dunia usaha akan menurun.

Ia mengatakan hal itu menimbulkan kekhawatiran sektor perbankan bahwa nasabah akan kesulitan dalam mengembalikan cicilan kredit ke depan.

"Dari sisi supply karena ada risiko kredit, NPL, meskipun rendah, gross-nya tetap rendah, tapi karena kondisi seperti ini, persepsi risiko perbankan itu meningkat karena kondisi ekonominya," katanya.

Sebagai gambaran, saat ini NPL gross sebesar 3,22 persen dan NPL net 1,14 persen. Kendati begitu, Perry memastikan tidak ada masalah kesulitan likuiditas dari sisi penawaran alias supply.

Likuiditas bank, sambungnya, justru tengah melimpah ruah. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 23,39 persen per Agustus 2020.

"Likuiditasnya bank melimpah lebih, antara lain karena quantitative easing yang dilakukan BI dalam jumlah yang besar Rp667,6 triliun, sehingga likuiditas di perbankan berlebih," terangnya.

Tak hanya likuiditas, sisi penawaran bank berupa tingkat suku bunga kredit sejatinya juga sudah turun. Catatannya, tingkat suku bunga bank sudah turun dari 9,92 persen ke 9,88 persen pada September 2020.

Di sisi lain, ia melihat pertumbuhan kredit masih minim karena bank tengah fokus menjalankan program restrukturisasi kredit sebagai stimulus di tengah pandemi kepada nasabah.

"Dengan restrukturisasi ini, kita ketahui bahwa nasabah diberikan kelonggaran untuk angsuran pokok dan bunga, nasabah tidak akan mencatatkannya sebagai NPL karena kredit yang diukur itu adalah tentu saja diklasifikasikan secara lancar," tuturnya.

Atas kondisi ini, Perry bilang bank sentra nasional akan terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bisa meningkatkan pertumbuhan kredit bank.

Dari sisi BI, caranya dengan terus memberi dukungan kecukupan likuiditas, menurunkan tingkat suku bunga acuan, memberi kebijakan makroprudensial yang mendukung, hingga menambah likuiditas ke pasar melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) agar bisa menopang kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Pemerintah mempercepat realisasi APBN, sehingga ekonomi bisa tumbuh. OJK juga melanjutkan program relaksasi kredit, sehingga kredit tidak hanya bebani perbankan tapi juga dunia usaha," tandasnya.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK