Harga Minyak Menguat Ditopang Permintaan dari China

CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 08:08 WIB
Harga minyak menguat hingga 2 persen ditopang oleh kenaikan permintaan dari China, importir minyak mentah terbesar di dunia. Harga minyak menguat hingga 2 persen ditopang oleh kenaikan permintaan dari China, importir minyak mentah terbesar di dunia. Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia balik arah (rebound) menguat pada akhir perdagangan Selasa (13/10). Penguatan harga minyak ditopang kenaikan permintaan minyak China

Mengutip Antara, Rabu (14/10), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember naik 73 sen atau 1,8 persen menjadi US$42,45 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November bertambah 77 sen atau 2,0 persen menjadi US$40,20 per barel.


Pada perdagangan sebelumnya, kedua kontrak acuan minyak berjangka tersebut jatuh hampir 3 persen.

China, importir minyak mentah terbesar dunia, menerima 11,8 juta barel per hari (bph) minyak pada September. Jumlah itu naik 5,5 persen dari posisi Agustus dan naik 17,5 persen dari periode yang sama tahun lalu. Namun, masih di bawah rekor tertinggi 12,94 juta bph pada Juni. 

"Harga minyak yang mengalami pukulan cukup keras pada hari sebelumnya, mencari titik terang pada Selasa," kata Analis pasar minyak senior Rystad Energy Paola Rodriguez-Masiu.

Pun begitu, kenaikan harga minyak dibatasi oleh perkiraan perlambatan pemulihan permintaan minyak global saat kasus virus corona meningkat.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan dalam World Energy Outlook bahwa dalam skenario optimis vaksin dan pengobatan dapat memulihkan ekonomi global pada 2021. 

Dengan demikian, permintaan energi pulih pada 2023. Tetapi, dalam skenario pemulihan yang tertunda dikatakan bahwa pemulihan permintaan energi bisa mundur ke 2025.

"Era pertumbuhan permintaan minyak global akan berakhir dalam 10 tahun ke depan, tetapi tanpa perubahan besar dalam kebijakan pemerintah-pemerintah, saya tidak melihat tanda puncak permintaan minyak," kata kepala IEA Fatih Birol. 

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga memperkirakan pemulihan permintaan minyak global lebih lambat. Dalam laporan bulanan OPEC, disebutkan permintaan minyak akan naik 6,54 juta bph tahun depan menjadi 96,84 juta bph, atau lebih rendah 80 ribu bph dari prediksi sebulan lalu. 

Perlambatan pemulihan permintaan minyak diprediksi karena sejumlah negara memberlakukan pembatasan sosial untuk mengurangi penyebaran virus, misalnya Inggris dan Republik Ceko. Sedangkan, Prancis mengisyaratkan penguncian lokal.

Dari sisi pasokan, sejumlah kilang sudah mulai produksi kembali sehingga diprediksi ada tambahan pasokan di pasar. Pekerja kilang minyak telah kembali ke anjungan Teluk Meksiko AS setelah Badai Delta renda dan pekerja di Norwegia kembali ke rig lepas pantai setelah mengakhiri aksi mogok.

Anggota OPEC, Libya juga telah mencabut keadaan force majeure di ladang minyak Sharara. Total produksi Libya diperkirakan mencapai 355 ribu bph. 

"Agar harga terus naik, kami pikir peningkatan kapasitas produksi cadangan di antara OPEC+ perlu dikurangi," imbuh Analis UBS dalam sebuah catatan.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)