ANALISIS

Lonjakan Simpanan Rp5 M Bukti Roda Ekonomi Tak Berputar

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 07:28 WIB
Pengamat menilai ekonomi tak bergerak karena masyarakat kelas menengah menahan belanja. Terbukti dari lonjakan simpanan di atas Rp5 miliar. Pengamat menilai ekonomi tak bergerak karena masyarakat kelas menengah menahan belanja. Terbukti dari lonjakan simpanan di atas Rp5 miliar. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketidakpastian kapan pandemi berakhir membuat masyarakat menengah menahan diri untuk berbelanja. Mereka lebih memilih menyimpan uangnya di bank. Lihat saja, jumlah tabungan atas Rp5 miliar melonjak sepanjang Januari-Agustus 2020.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menuturkan pada periode tersebut tabungan di atas Rp5 miliar bertambah hingga Rp373 triliun atau tiga kali lipat lebih tinggi kalau dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp115 triliun.

"Sampai Agustus ini penabung di kelompok di atas Rp5 miliar, campuran antara institusi dan masyarakat kelas menengah, memang meningkat sangat tinggi. Kalau kita break down lebih detail lagi, hanya di Agustus saja, meningkatnya Rp148 triliun," ucapnya belum lama ini.


Peningkatan tabungan masyarakat kelas menengah tersebut sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bank-bank pelat merah yang rata-rata mencapai double digit. BRI, misalnya, DPK tumbuh 17 persen per Agustus 2020.

Sementara, Bank Mandiri, BNI dan BTN tumbuh masing-masing 14 persen, 21 persen dan 18 persen sepanjang Januari hingga September 2020.

Ekonomi Indef Ahmad Tauhid mengatakan pemerintah harus mencari cara agar masyarakat kelas menengah atas mau mengeluarkan uangnya ke sektor riil. Sebab, apabila terus berlangsung, peningkatan nilai simpanan tersebut akan membuat gerak perekonomian melambat.

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama perekonomian Indonesia, dengan kontribusi 57,85 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) RI pada kuartal II 2020.

Jika konsumsi masyarakat menengah atas tidak bisa diandalkan dan mereka hanya menempatkan uangnya di bank, maka pertumbuhan ekonomi bakal sulit terungkit di kuartal akhir tahun ini 

Terlebih, sebelum masa pandemi saja, merosotnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga disebabkan turunnya konsumsi masyarakat kelas atas, yakni 20 persen penduduk berpengeluaran tertinggi.

"Mereka jumlahnya sedikit tapi belanja mereka pengaruhnya besar ke konsumsi. Cuma, sayangnya pertumbuhannya rata-rata kecil sekali," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/10).

Dalam lima tahun terakhir, berdasarkan catatan Indef, rata-rata pertumbuhan konsumsi kelompok ini hanya berkisar 3,57 persen. Padahal, kontribusi belanja mereka terhadap total konsumsi rumah tangga mencapai 45,36 persen

Sementara konsumsi masyarakat kelas menengah, yakni 40 persen penduduk berpengeluaran sedang, bisa tumbuh hingga 6 persen. Meski begitu, kontribusi mereka terhadap total konsumsi rumah tangga masih di bawah masyarakat kelas atas, yakni sebesar 36,9 persen.

Terakhir, konsumsi masyarakat kelas bawah, yakni 40 persen penduduk berpengeluaran rendah, mampu tumbuh rata-rata 5,2 persen. Namun lagi-lagi, kontribusi mereka terhadap total konsumsi rumah tangga hanya sebesar 17,71 persen.

Ekonom Core Indonesia Mohammad Faisal berpandangan lonjakan simpanan di atas Rp5 miliar tersebut tak semata disebabkan oleh meningkatnya tabungan masyarakat kelas menengah atas.

Menurut dia, porsi terbesar kenaikan simpanan justru dipengaruhi oleh tertahannya ekspansi usaha menengah ke atas selama pandemi serta peningkatan keuntungan sejumlah eksportir terutama di sektor pertanian dan perkebunan.

[Gambas:Video CNN]

"Kalau saya lihat kan beberapa komoditas seperti karet, coklat, beberapa barang tambang juga mengalami kenaikan. Nah, biasanya di atas Rp5 miliar ini berkaitan dengan itu. Jadi, dia yang pendapatannya meningkat karena aktivitas ekspor," tuturnya.

Kendati demikian, Faisal tak memungkiri bahwa belanja kelas menengah memang turun drastis selama pandemi covid-19. Apalagi, sebelum pandemi pola konsumsi mereka didominasi oleh kegiatan yang bersifat leisure seperti pariwisata.

Karena itu, menurutnya, stimulus yang disiapkan pemerintah di sektor ini antara lain, diskon tiket, hotel, restoran, hingga voucher makanan lewat aplikasi online harus segera dijalankan.

Tidak hanya itu, pemerintah juga harus menekan angka pandemi di sejumlah lokasi pariwisata agar masyarakat berkantong tebal itu merasa aman untuk plesiran.

Menurut Ekonom Universitas Indonesia Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi, yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan masalah pandemi covid-19 agar tingkat kepercayaan kelas menengah tumbuh untuk membelanjakan uangnya.

Pasalnya, setiap ada tren kenaikan covid-19 yang diikuti pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepercayaan masyarakat menengah ke atas untuk berbelanja relatif terganggu.

Hal ini juga tercermin dari survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia di mana perbaikan keyakinan konsumen tertahan pada September 2020.

Saat itu, seperti telah diketahui, DKI Jakarta kembali memberlakukan PSBB lantaran peningkatan kasus harian covid-19 yang kian mengkhawatirkan.

Toh, strategi lain, sambung Fithra, seperti penurunan suku bunga acuan juga tidak mempan. Sebab terbukti, meski BI telah menurunkan hingga empat kali sepanjang tahun ini, konsumsi tetap tak tumbuh dan penyaluran kredit masih sangat minim. 

"Semua enggak akan berpengaruh karena penurunan akibat covid-19 ini inelastis. mau suku bunga diturunkan juga enggak berpengaruh karena mereka mau uangnya aman," pungkasnya.

(hrf/bir)