RI-UEA Resmi Garap PLTS Apung Terbesar Asia Tenggara di Jabar

CNN Indonesia | Kamis, 17/12/2020 19:58 WIB
Dubes RI untuk UEA Husin Bagis peresmian proyek PLTS Terapung 145 MW akan menjadi kick off proses persiapan pembangunan pembangkit listrik di Waduk Cirata. Dubes RI untuk UEA Husin Bagis peresmian proyek PLTS Terapung 145 MW akan menjadi kick off proses persiapan pembangunan pembangkit listrik di Waduk Cirata. Ilustrasi. (Detikcom/Rachmadi Rasyad).
Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA) Husin Bagis menyatakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung 145 megawatt (MW) di Cirata, Jawa Barat, resmi digarap pada Kamis (17/12). 

"Ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya terbesar kedua di dunia dan terbesar di Asia Tenggara. Keberadaan proyek investasi ini menunjukkan bahwa Indonesia terbuka bagi investor asing dan berkomitmen untuk mengembangkan energi terbarukan yang ada," ujar Husin dikutip dari rilis, Kamis (17/12).

Proyek senilai US$129 juta ini merupakan satu dari 11 kesepakatan bisnis yang disepakati kedua negara pada Januari 2020 lalu.


"Peresmian Proyek PLTS Terapung 145 MW senilai US$129 juta ini merupakan langkah awal. Kami berharap Masdar, selaku investor UEA dan mitra PJB dalam proyek ini, dapat terus melakukan ekspansi dan membangun pembangkit listrik lainnya di Indonesia," ujarnya.

Husin mengatakan bahwa peresmian proyek PLTS Terapung akan menjadi salah satu kick off proses persiapan pembangunan pembangkit listrik di waduk Cirata.

Untuk tahap awal, PT Pembangkit Jawa Bali Solar Masdar Energi akan menempatkan water station untuk mengumpulkan data sebagai persiapan dari proses pembangunan pembangkit.

Menurut data BKPM, UEA menyumbang investasi sebesar US$259 juta dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Nilai investasi ini terdiri dari 338 proyek investasi, dan menyerap kurang lebih 9.900 tenaga kerja.

[Gambas:Video CNN]

Sedangkan, tren tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Ini ditunjukkan dari catatan investasi UEA di 2015 yang hanya senilai US$19 juta per tahun. Kontras dengan 2020 yang mencapai US$69 juta atau naik hingga 350 persen.

Untuk diketahui, Masdar merupakan perusahaan yang berdiri sejak 2006 dan berbasis di UEA. Perusahaan berfokus mengembangkan proyek energi terbarukan baik skala utilitas maupun off-grid, dan aktif di lebih dari 30 negara di seluruh dunia.

(wel/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK